SEUNTAI DOA
Entah mengapa pagi ini, saya ingin membaca percakapan Group WA kawan-kawan saya saat saya masih di International SOS, kantor tempat saya menghabiskan hampir 11 tahun karir saya. Group yang berisi kawan-kawan yang masih dan yang sudah resign dari International SOS.
Saya memang malas ikut percakapan di WA Group dan merupakan anggota group WA yang pasif, jarang membaca informasi, ikut percakapan atau sekedar membuka WA Group. Pagi ini entahlah ada keinginan membaca ratusan chatt yang menumpuk di WA Group yang belum saya baca.
Ya Alloh... Kabar duka kembali datang, kawan saya terbaring di ICU RS UI, dalam kondisi kritis. Mungkin ini jawaban mengapa perasaan saya tidak enak belakangan ini.
Dewi adalah kawan saat di International SOS. Ia pernah menjadi atasan saat berada di International SOS, Platinum dan beberapa hari di Medilum dan selalu menjadi kawan baik. Banyak hal yang kami lewati bersama, naik turunnya hubungan perkawanan dan kesibukan memperjuangkan kehidupan masing-masing, tidak pernah benar-benar memutus hubungan kami.
Entah mungkin semakin tua, saya semakin memahami bahwa tiap orang punya pertempuran di dalam hidup yang mereka simpan sendiri. Saya jadi belajar dari pengalaman kehidupan dan mencari hal baik dari tiap proses saat melakoni kehidupan.
Desember 2020, saya ingat menghubungi Dewi untuk urusan pekerjaan. Kami banyak bercerita mengenai kesukaan kami menjelajahi tempat-tempat baru. Dewi adalah orang yang sangat suka berpetualang. Tidak pernah terlewat satu hari libur yang tidak dihabiskannya dengan menjelajahi tempat yang indah. Kenang-kenangan berupa foto-foto selfi tempat yang dikunjungi dan dibagikan melalui media sosialnya. Foto-foto yang indah.
Rabb, hamba yakin bahwa saat hujan turun dipagi ini, doa-doa yang dipanjatkan akan Engkau kabulkan. Berilah kekuatan bagi Dewi, agar ia dapat melewati masa kritisnya dan pulih kembali seperti sedia kala. Hanya untai doa yang saya panjatkan dalam hati untuk kawan saya.
Situasi wabah Covid-19 yang semakin mengerikan di negeri kami, membuat saya semakin mawas diri. Ada twitt seseorang di Twitter, " Seperti halnya arisan , pada akhirnya semua orang akan mendapatkan Covid-19 ". Banyak yang mampu bertahan dan ada pula tidak mampu bertahan. Namun sejatinya kematian datang bukan karena Covid-19, tapi karena ajal telah tiba dan saat itulah garis kehidupan seseorang berakhir.
Belakangan ini saya lebih sering melihat kembali perjalanan kehidupan yang Alloh SWT masih berikan kepada saya. Saya tidak bisa menghapus ketidaksempunaan saya sebagai manusia. Namun yang bisa dilakukan disisa umur yang entah tinggal berapa lama lagi, saya berdoa agar tiap detik yang saya punya adalah detik yang bermanfaat, detik yang penuh dengan kebaikan, detik yang senantiasa semakin mendekat ke Alloh SWT, sang Pemilik Kehidupan.
Jika kelak ajal menjemput, semoga sebuah akhir yang baik yang menutup kehidupan ini. Amiin, insya Alloh..

Komentar
Posting Komentar