CERITA LAIN SAAT PANDEMI

" Ibu diundang untuk tes Corona di Kelurahan minggu lalu, cuma ibu kompakan dengan ibu-ibu se RT tidak datang, Ibu takut hasilnya positif lalu harus dikarantina ! Cerita tetangga sebelah rumah  ketika bertemu saya Jum'at lalu". 

Kelurahan kami  melakukan rapid tes massal gratis kepada para warga lansia atau tepatnya warga di atas 60 tahun, menurut tetangga saya sebanyak 200 Lansia terdata di RW kami. Namun ternyata hanya 2  ( dua ) orang saja yang bersedia datang dan melakukan rapid tes. Beberapa dari mereka berbohong mengenai usia mereka untuk menghindari pemeriksaan. 

Rapid tes adalah skrining awal untuk mendeteksi antibodi, yaitu IgM dan IgG, yang di produksi oleh tubuh untuk melawan virus Corona. Antibodi terbentuk oleh tubuh bila sudah terpapar virus Corona. Jadi bila antibodi  sudah terbentuk di dalam tubuh seseorang, artinya tubuh orang tersebut pernah terpapar atau di masuki oleh virus Corona. Pembentukan antibodi ini memerlukan waktu, bahkan bisa sampai beberapa minggu. Hal inilah yang bisa menyebabkan keakuratan dari rapid tes cukup rendah, karena bisa jadi saat itu hasilnya didapat negatif karena antibodi belum terbentuk. 

Lalu bagaimana jika seseorang sudah terbentuk antibodinya maka hasilnya akan positif dan akan disarankan untuk dilakukan swab tes.  Saat seseorang merasakan gejala batuk dan demam maka  akan dimasukkan ke dalam kelompok orang dalam pemantauan ( ODP ) sambil menunggu hasil swab tes. Selama dalam pemantauan maka orang tersebut akan di karantina.

Keengganan di karantinalah yang jadi alasan penolakan Lansia di RW saya mungkin juga terjadi juga  di tempat lain. Ya.. itu tadi jika di karantina artinya  kehilangan kebebasan.  Belum lagi stigma pasien dengan Covid-19 yang membuat mereka akan diusir dan dikucilkan oleh warga. Belum lagi gunjingan tetangga kiri kanan kepada mereka yang dianggap pembawa virus. Kecemasan dan ketakutan inilah yang sebenarnya mendasari mengapa marak penolakan dari warga untuk melakukan tes, termasuk yang dilakukan oleh tetangga saya.

Rasanya sosialisasi melalui media masa kepada masyarakat  mengenai Covid-19; bagaimana penyebaran, cara penularan, cara pencegahan  sudah kerap kali disampaikan kepada masyarakat namun informasi dengan bahasa yang sederhana mengapa perlu dilakukan skrining, apa manfaatnya lalu apa tindakan selanjutnya dan bagaimana support kalangan warga setempatlah yang perlu digalakkan. Mereka perlu diberi pengertian bahwa positif Covid-19 bukanlah aib sehingga perlu dikucilkan atau dijauhi, namun justru  orang yang perlu didukung oleh warga sekitar.

Syukur Alhamdulillah di RW saya sampai saat ini belum terdengar ada kabar  warganya yang menjadi pasien virus Covid-19, meski yang terdampak oleh pandemi Covid-19 banyak sekali termasuk saya. He..he...terus positif sambil mengisi waktu supaya tetap sehat jasmani, rohani maupun kantong. (SWA)















Komentar

Postingan Populer