KENORMALAN BARU KATANYA !

Senin lalu, tanggal 15 Juni saya memutuskan untuk mengurus BPJS Kesehatan yang  sudah di non-aktifkan oleh kantor, semenjak  kantor berstatus dibekukan sebagai imbas Pandemi Covid-19.  BPJS saya pun harus diubah menjadi BPJS Mandiri. Jadi untuk kali pertama saya mencoba beradaptasi dengan kenormalan baru ini dengan keluar rumah menuju kantor BPJS di Pasar Minggu. Setelah lebih dari tiga (3) bulan saya tidak keluar rumah selain untuk keperluan yang penting. Hampir semua kegiatan dilakukan di rumah, teknologilah penolong saya. Mungkin ini yang namanya bersiap ke era revolusi industri 4.0 ( bahasanya anak-anak start up, yang gila akan teknologi dan digitalisasi )

Pagi itu perjalanan menuju kantor BPJS saya lakukan dengan menggunakan transportasi umum. Ternyata meski dikenormalan baru transportasi sudah diperbolehkan beroperasi dengan maksimal 50 % penumpang, belum banyak kendaraan umum rute Manggarai - Pasar Minggu beroperasi. Satu-satunya yang beroperasi adalah Mikrolet 16, jurusan Pasar Minggu - Manggarai (PP). Nah sudah pasti tidak ada jaga jarak pada layanan umum seperti mikrolet yang motonya 4-6. Satu lagi kata siapa pandemi Covid-19 ini bikin susah, buktinya, meski turun pendapatan menurut pak supir mikrolet,  lebih dari 5 batang sudah dihabiskan sepanjang saya duduk di sampingnya. Agak berbeda  cara berpikir pak supir, mengeluh pendapatan turun karena pandemi sementara  harus menghidupi anak dan istri tapi tidak bisa melepaskan kebiasaan merokok. Saya rasa pak supir juga tidak peduli bahwa risiko perokok terkena virus Covid-19 jauh lebih tinggi  termasuk tidak peduli meski saya yang bermasker untuk melindungi diri saya  duduk di sebelahnya sesak karena harus pula menikmati asap rokok.  Karena toh masker saja sebagai barang wajib bagi pak supir cuma asesoris digantungkan di bawah dagu supaya tidak dihukum membersihkan jalanan atau WC jika ada razia.

Sedih ternyata bapak supir merisikokan dirinya sendiri dan juga orang lain. Motif ekonomi memang tidak bisa terbantahkan karena pak supir adalah tulang punggung keluarga dan tidak punya simpanan tabungan. Sebuah ironi hidup di Jakarta.

Sejujurnya saya kurang sreg dengan istilah kenormalan baru yang dimaksud oleh Pemerintah Pusat. Dalam pikiran saya kenormalan baru adalah tatanan hidup yang baru, contohnya berubah cara pandang orang menjadi lebih peduli dengan lingkungan, tersedianya moda transportasi yang lebih ramah lingkungan atau hal hal baru yang mengubah cara pandangan manusia memandang atau menjalani hidup. Mengingat pandemi Covid-19 berefek global, karena hampir seluruh negara terdampak sehingga seharusnya merubah tatanan lama menjadi lebih baik dan sehat bagi jiwa dan raga. Alasannya sederhana karena terbukti sudah digaungkan akan memasuki era  revolusi industri 4.0, namun perangkat minimal untuk Nakes  tidak terpenuhi.  Seluruh negara yang mempunyai jumlah pasien positive Covid-19 yang tinggi kekurangan alat pelindung diri (APD) termasuk alat kesehatan contohnya ventilator bagi pasien. Covid-19 sungguh mampu mengguncang tatanan ekonomi dan sosial masyarakat dunia.

Pikiran saya agaknya berlebihan dengan kata normal baru ,karena " New Normal yang dimaksud adalah percepatan penanganan Covid 19 dalam bidang kesehatan, sosial dan ekonomi, " kutipan dari Postingan Instagram BPJS Kesehatan tanggal 2 Juni 2020". Mengapa percepatan? karena kurang  lebih 3 bulan perekonomian Indonesia  meredup, sebagai dampak dengan ditutupnya sektor sosial dan ekonomi vital guna memutus rantai penularan. Jadi  pertimbangan ekonomilah maka perlu dipercepat penanganan Covid-19 dengan digenjotnya kembali roda perekonomian dan melengkapinya dengan protokol kesehatan sebagai syarat agar manusia yang menggerakkan roda perekonomian dapat berusaha dan bekerja dengan aman dan sehat disituasi pandemi Covid-19. Banyak pro dan kontra di sana namun rasanya pilihan dikembalikan pada masing masing individu. Jadi kesimpulan saya, normal baru sebenarnya adalah persiapan  kembali ke normal / kegiatan  lama dengan menambahkan protokol kesehatan sebagai kunci agar seseorang tetap dapat bertahan menjalani hidup sampai vaksin atau obat covid-19 ditemukan.  

Jadi bukan perubahan tatanan baru seperti yang saya pikir. Atau bisa jadi tiap orang punya pandangan sendiri mengenai normal baru dalam benaknya. Namun buat saya pribadi pandemi ini memaksa saya berpikir ulang  mengenai  prioritas hidup, lebih selektif dalam banyak hal dibandingkan sebelumnya. Hikmah besar lainnya adalah potensi yang  bisa saya gali justru pada saat saya tidak bekerja karena pandemi. Mungkin juga saya beruntung karena bisa bertahan dengan dana darurat yang dulu saya siapkan jika terjadi sesuatu meski pandemi tidak pernah ada dalam daftar kedaruratan, karena tak terbersit mengalami situasi pandemi. Saya bisa tetap tinggal di rumah sebagai pilihan saat ini  sampai pandemi mereda meski tidak punya penghasil tetap. Lebih bersyukur lagi meski pandemi ini membuat saya secara psikis  terpengaruh, selalu ada kegiatan yang membuat saya kembali waras.(SWA)








Komentar

Postingan Populer