"MEMBERI RASA"

Jumat lalu saya mulai lagi membuat roti manis dari resep sudah dicari terlebih dahulu di Google.  Dulu saat saya ikut kursus masak, guru  selalu menekankan untuk mengikuti resep jika baru pertama kali membuat masakan, kaitannya dengan ukuran bahan makanan yang dipakai dan juga cara mengolah bahan makanan tersebut. 

Memasak adalah salah satu kesukaan yang biasanya saya lakukan saat saya sempat atau ada resep baru yang menarik. Jika diberi penilaian subyektif, saya lebih "pandai" memasak makanan rumahan dibandingkan membuat kue atau roti. Jika rasa sebagai ukuran, sejujurnya tidak terlalu buruk, setidaknya pas dalam artian tidak terlalu asin, legit, manis atau gurih, seimbang setidaknya menurut saya dan penilaian dari kakak saya yang paling sering jadi korban untuk mencicipi masakan saya. Saya pribadi agak pemilih dalam makanan. Saya menyukai masakan yang secara rasa tidak terlalu banyak berbumbu dan alias ringan rasanya meski bukan kurang bumbu. 

Terkait hal ini, menurut saya memasak makanan lebih melibatkan hati daripada keahliaan itu sendiri. Keahlian bisa diasah dengan sering praktek, tapi hati butuh seni sendiri untuk mengolahnya dan belajarnya seumur hidup. Kenapa hati terlibat dalam memasak, karena terbayangkan jika memasak sambil marah-marah, dipastikan  suasana dapur yang riuh rendah dan rasanya mesti tidak karu-karuan. Sama halnya dengan suasana hati sedang tidak enak alias sedih, mana bisa kita membedakan menangis karena sedih atau karena mengupas bawang. Hasil ya pastinya juga tidak selezat jika suasana hati sedang baik. Jika rasanya lezat pun, rasanya malas menyantapnya. Kadang berakhir  dikeranjang sampah atau santapan kucing.

Hal yang sama terjadi Jumat lalu, saat saya membuat roti. Meski persiapan sudah dilakukan namun hasilnya tidak mekar dan jauh dari harapan. Dari rasa dan tektur tidak sesuai harapan alias gagal total. Jadi Jumat sore itu benar-benar menyebalkan.

Ada hal yang saya kerap lakukan menyikapi kegagalan atau kekecewaan dalam hal apapun, tidur untuk menenangkan hati dan melupakan kekecewaan.  Setelahlah suasana hati selalu lebih baik. Biasanya otak saya sudah kembali bekerja dan  siap mereview kembali kegagalan dan kesalahan. Hal yang sama yang saya lakukan malam itu dengan membuka kembali resep yang saya jadikan panduan dan review kembali mengapa gagal. Hmm.. takaran ragi yang terlalu banyak  yang membuat tekstur roti tidak bagus dan  adonan yang kurang kalis dan kurang diistirahatkan secara sempurna yang menjadi sebab roti berakhir di keranjang sampah. 

Well.... lain kali akan  lebih baik.  Dari sisi persiapan bahan makanan maupun cara pembuatan serta terpenting suasana hati saat memasak. Agaknya suasana hati dan "memberi rasa" memberi pengaruh besar pada hasil akhir pada hal-hal apapun yang kita lakukan. (SWA)





Komentar

Postingan Populer