RUMAH PENINGGALAN IBU

Selama beberapa bulan di rumah akibat pandemi Covid-19, ada beberapa hal yang baru saya sadari terkait lingkungan yang saya tempati selama ini. Sebelumnya rumah hanya tempat pulang  dan istirahat saat saya pulang bekerja. Saya jarang mengurusi lingkungan saya kecuali menunaikan kewajiban  sebagai warga penguni lingkungan saya. Saya tinggal di perumahan padat di Setiabudi. Rumah yang sudah saya tempati hampir seusia saya. Rasanya berbagai karakter tetangga yang tinggal disebelah kanan maupun kiri rumah sudah saya temui.

Rumah peninggalan almarhumah saya terletak di gang kecil yang cukup dilalui motor atau bajaj jika ingin sedikit memaksa. Berbeda dengan gang yang lain, gang kami  hanya berisi satu deret rumah yag isi nya kurang dari 10 rumah sementara deretan depan yang berhadapan adalah rumah panjang yang menghadap jalan besar.  Lumayan tenang dan tidak ramai.  Waktu saya kecil penghuninya adalah orang-orang Betawi yang sangat kental kekeluargaannya. Rasanya saya masih mengingat  bagaimana suasana saat ada perayaan hari raya, pernikahan, sunatan, atau naik haji atau apapun, suasana kekeluargaan sangat kental akan budaya Betawi dikesehariannya. Masa kecil dan masa remaja, saya lalui dengan menyenangkan di lingkungan Betawi.

Seiring waktu berjalan banyak tetangga saya yang pindah ke pinggir Jakarta dan menjual tanah dan rumahnya kependatang. Jadi mulailah banyak perubahan termasuk makin ramai rumah dijadikan kos-kosan. Lokasi rumah saya memang sangat strategis karena akses yang dekat pusat perkantoran dan dekat kemana pun sehingga sangat diminati  para perantau yang kebetulan bekerja di Jakarta. Inilah yang dijadikan peluang usaha bagi pendatang yang punya uang  untuk membuka kos-kosan di rumah yang ditempatinya.

Termasuk juga rencana dari penghuni baru yang menempati sebelah kanan dan kiri rumah saya. Rumah saya adalah rumah tua yang  merupakan peninggalan ibu saya. Saya masih menempatinya karena  rasa sentimentil akan rumah tersebut dan merasa sayang untuk menjualnya karena seperti akan menghapus sejarah hidup saya. Alasan ini yang membuat saya  mempertahankan design rumah dan  memperbaiki apabila ada bagian-bagian yang rusak. Saya tidak merubah apapun karena design rumah sudah cukup nyaman dan sehat karena pencahayaan yang baik, struktur bangunan yang kokoh setidaknya sampai saat ini. Meski sudah mulai dinding terkelupas dan mengelembung di sana sini. Ini lebih kepada sudah tuanya bangunan rumah ini dan  jika akan direnovasi harus secara menyeluruh  serta membutuhkan banyak uang.

Well agaknya tiap keputusan selalu dicetuskan akan berbagai hal. Dimulai dari tetangga sebelah kanan saya yang meminta izin untuk membangun rumah yang kebetulan genting rumah saya akan menempel dengan bangunan yang akan dibuat. Persoalan sebetulnya tidak saja terletak disana namun juga pembangunan yang  tidak memikirkan tetangga di dekatnya. Kebetulan tepat di sebelah rumah saya ada gang kecil yang memisahkan rumah saya dengan tetangga baru. Gang kecil ini menjadi jalan masuk rumah dibelakang rumah dan rumah tetangga baru. Gang kecil ini merupakan kelebihan dari tanah yang dimiliki ibu saya yang kemudian almarhumah di iklaskan ibu saya untuk dipakai sebagai jalan keluar dari penghuni rumah dibelakang rumah saya.

Kabel listrik untuk aliran listrik rumah belakang yang sebelumnya berada di atas rumah dan tidak terhalang, yang dibiarkan tergantung sangat rendah di samping rumah saya. Mengingat  bangunan tetangga baru saya melebihi tinggi dari rumah saya maka paling mudah dengan mencantelkan di genting rumah saya. Mebahayakan bagi rumah kami tentunya. Tidak sampai di situ kekesalan saya yaitu rumah yang dibangun bertingkat meninggalkan kotoran berupa kerikil dan serpihan bahan bangunan yang mengotori dak rumah dan genting saya. Belum lagi martil yang jatuh mengenai genting yang menyebabkan pecahnya beberapa genting rumah. Bangunan pun ternyata belum usai dibuat karena rencananya akan dibuat 4 lantai karena  menurut kabar akan di isi 17 kamar untuk kos-kosan. Struktur bangunan yang menjulang tinggi yang menurut saya  mengkhawatirkan jika tidak mempunyai pondasi yang kuat. Bangunan yang melebihi tiang listrik. Meski beberapa kali saya tegur karena kerusakan yang menimpa rumah saya akibat pengerjaan bangunan rumahnya, pemilik  rumah tidak bergeming. Tidak ada niat mengganti kerugian selain membantu mengganti genting rumah dengan genting rumah yang memang saya simpan sebagai persiapan.

Sempat terlintas dengan kondisi bangunan seperti ini apakah tidak ada peraturan daerah yang mengatur pembangunan tempat usaha berupa bangunan tinggi di pemukiman padat penduduk.  Apa saja yang harus dipenuhi sehingga setidaknya kiri dan kanannya tidak merasa khawatir dengan keberadaan bangunan tersebut. Air tanah yang akan dipakai untuk penghuni kos-kosan dan tidak memikirkan apakah tetangga kiri kanannya akan kebagian juga atau tidak, keamanan karena akan pendatang baru yang bahkan mungkin tidak mengenal tetangga sebelahnya belum lagi keamanan penggunaan aliran listrik yang digunakan. Pemukiman yang padat penduduk seperti di lingkungan saya sangat rawan kebakaran.  Kasus kebakaran yang terjadi lebih banyak karena perilaku dari penghuni kos-kosan.

Jaman memang berubah, penghuni lingkungan kami pun berganti, tentunya dengan berbagai kebutuhan, termasuk memperolah manfaat ekonomi dari properti mereka. Yang menjadi pertanyaan  adalah " apakah hak pribadi itu bisa digunakan sebebasnya meski sekitarnya merasa tidak nyaman dan khawatir akan keberadaannya". Ini tidak ada kaitan dengan iri hati dari saya sebagai penghuni rumah di sebelahnya. Murni pilihan pribadi  untuk tidak ikut-ikutan  membuat rumah ibu saya menjadi kos-kosan, meski saya sanggup membuatnya. 

Buat saya rezeki yang saya dapatkan dari pekerjaan saya sudah cukup  menolong diri saya, mencukupi banyak hal dan selalu punya kesempatan membantu orang lain. Namun jika secuil kenyamanan dan perasaan bebas dari kekhawatiran yang saya inginkan dari perubahan lingkungan sudah tidak bisa lagi saya dapatkan, mungkin sudah waktunya saya pun harus mulai memikirikan untuk pindah. 

Percakapan saya kemarin dengan kakak saya, ada kesimpulan akhir jika nantinya  sudah tidak lagi ada rasa nyaman dan selalu timbul was-was tinggal di lingkungan yang sudah saya diami hampir seusia saya, berarti sudah waktunya untuk pindah. . Suka tidak suka pilihan pindah menjadi sesuatu yang masuk akal ketika seseorang sudah tidak merasa nyaman. Melanjutkan hidup di tempat yang baru atau hijrah ke tempat baru. Tentunya saya akan menyelesaikan tanggung jawab terlebih dahulu. Memastikan segala sesuatunya berjalan dengan semestinya agar kelak memberikan banyak manfaat bagi kami, keluarga almarhumah ibu.

Saya rasa, hari ketika saya melepas dan meninggalkan  rumah ini akan menjadi hari tersedih dalam hidup saya. Seperti  kehilangan untuk kesekian kalinya, setelah melepas almarhum Bapak, almahumah Bude, almarhumah Ibu tercinta  dan terakhir tentunya rumah ini. Rumah yang menyimpan kenangan. Sejarah hidup keluarga kami terukir di rumah ini. Saya meyakini keputusan ini akan menjadi keputusan  bijaksana bagi keluarga khususnya saya. Janji saya adalah sebelum itu terjadi saya akan menghidupi hari dan mewujudkan mimpi saya sehingga kelak saya dapat menutupnya dengan kenangan yang manis dalam perjalanan hidup saya. (SWA)











Komentar

Postingan Populer