GARIS AKHIR

Kamis lalu, pengeras suara mesjid dekat rumah saya memberitahukan maklumat bahwa lingkungan RW tempat saya tinggal ditetapkan sebagai zona hitam sebagai hasil dari pemeriksaan test Covid-19 yang dilakukan sebelumnya. Dikutip dari artikel yang diposting di Healthgrid tanggal 19 Mei 2020, Zona hitam adalah istilah untuk pemetaan daerah yang kasus Covid-19 sudah sangat parah sehingga perlu dilakukan lockdown.
Dari kabar yang beredar di lingkungan warga, setelah beberapa kasus meninggal dengan positif Covid-19 di lingkungan RW kami, ditemukan kembali warga yang positif terkena Covid-19. Lingkungan tempat tinggal saya adalah lingkungan padat penduduk dan dihuni warga yang merupakan penduduk yang sudah turun temurun di sana dan juga pendatang. Banyak kos-kosan berdiri yang diisi pendatang yang kebetulan bekerja di daerah sekitar Kuningan. Dengan mulai di bukanya perekonomian dan kegiatan perkantoran disekitar Kuningan, mobilitas dan interaksi masyarakat sangat tinggi di lingkungan kami.
Sehingga dengan berbagai pertimbangan karantina mandiri tidak dijadikan pilihan mengingat perilaku warga yang cenderung lalai dan abai maka demi kepentingan bersama, mereka yang positif Covid-19 dibawa ke Wisma Atlit untuk perawatan.
Dari maklumat tersebut juga disampaikan bahwa tidak diadakannya sholat Jum'at minggu ini dan juga tidak dilaksanakan pelaksanaan sholat Idul Adha minggu depan. Lingkungan kami banyak sekali mesjid dan mushola. Rasanya hampir setiap gang ada mesjid atau paling tidak mushola kecil. Jadi kami sebagai Muslim sudah punya alarm sendiri berupa azan sebagai panggilan sholat. Bersaut sautan yang mungkin cuma bisa di dengar di lingkungan kami yang padat penduduknya.
Namun meski sudah ditetapkan sebagai zona hitam, kebijakan penutupan mesjid dan mushola sebagai tempat kemungkinan munculnya klaster baru belum seragam. Masih ada mesjid dan mushola yang mengadakan sholat jamaah dan pengajian rutin. Agaknya mereka punya pertimbangan sendiri yang mungkin salah satunya karena belum ada di warga dekat mushola atau mesjid yang terkena. Sehingga mereka menganggap lingkungan mereka adalah zona aman dan diperbolehkan mesjid dan mushola mengadakan sholat berjamaah dengan memberlakukan protokol kesehatan.
Maklumat lainnya adalah warga yang tidak perlu ke luar rumah disarankan tetap berada di rumah. Yang jadi persoalan adalah apakah maklumat ini efektif dan akan dijalankan secara konsisten oleh warga. Agaknya sangat sulit mengatur warga dengan berbagai karakter dan cenderung abai dan tidak peduli dengan orang lain.
Pada hari ditetapkan zona hitam, banyak sekali petugas Satpol PP merazia orang-orang yang keluar rumah tanpa masker dan menutup beberapa gang-gang yang ditemukan kasus positif. Namun setelah beberapa hari kemudian banyak orang yang mulai lagi berkumpul di jalan atau gang dengan keperluan masing-masing, atau sekedar ngobrol membahas mengenai warga mana yang terkena Covid-19 dan banyak warga yang tidak menggunakan masker ketika berkegiatan di luar rumah. Warteg yang dipenuhi orang-orang untuk sarapan dan makan siang di sana tanpa ada jaga jarak bahkan pelayan pun tidak menggunakan masker saat melayani pembeli. Warga yang setelah berolahraga pagi tidak mengenakan masker. Tidak ada satupun yang mencermikan bahwa lingkungan kami masuk dalam zona hitam. Kehidupan berjalan seperti biasa tanpa ada kepedulian warga akan virus yang menurut kabar sudah bermutasi dengan sedemikan rupa hingga sulit lagi dikenali.. Agaknya petugas satpol PP pun mulai bosan dengan warga yang semaunya sendiri dan susah diatur.
Yang menariknya adalah pendataan warga usia 60 tahun di RT kami untuk dilakukan Swab Tes. Namun disambut warga dengan menutup rumah dan menolak diperiksa dengan alasan masing-masing. Salah satunya dipertanyakannya kredibilitas tenaga kesehatan yang akan melakukan pengetesan pada warga. Salah satu yang digunakan sebagai alasan penolakan warga untuk di tes.
Meski bukan tenaga kesehatan saya sangat mengenal dunia kesehatan karena hampir seluruh karir saya berkecimpung di sana. Sehingga alasan yang absurd jika kredibiltas tenaga kesehatan yang dipertanyakan, mengingat resiko besar yang mengintai tenaga kesehatan jika mereka lalai dan abai dengan standar prosedur operasional dalam melakukan pekerjaan mereka.
Satu waktu saya pernah berdialog dengan tetangga sebelah yang menolak tes swab dengan alasan takut hasilnya positif. Takut terisolasi dan kehilangan kebebasan. Jadi meski diberikan gratis pengetesan swab oleh Kelurahan, mereka memilih menutup pintu rapat-rapat dan berpura-pura tidak ada di rumah atau mengaku bahwa usia mereka belum 60 tahun. Pengertian yang diberikan oleh saya dibantah dengan kekeraskepalaan bahwa mereka mampu menjaga diri mereka dan tidak mungkin dapat tertular Covid-19.
Entahlah meski wabah sudah berlangsung 5 bulan dan diprediksi akan berlangsung lebih lama lagi, belum merata kesadaran masyarakat mengenai wabah ini. Wabah yang sudah merontokkan banyak hal dan dialami oleh semua orang namun belum mampu membuat masyarakat untuk mengubah perilakunya lamanya. Mereka beranggapan bahwa wabah ini bukanlah sesuatu yang perlu diwaspadai dan berharap segera berakhir sehingga mereka dapat kembali kepada kebiasaan dan kehidupan sebelumnya.
Nyatanya sudah dipastikan tidak akan demikian. Wabah ini memaksa semua orang untuk mengubah cara pandang dalam menjalani hidup dan memaksa menyesuaikan diri karena kehidupan tidak akan berjalan sama seperti sebelum wabah.
Itu yang terjadi dengan saya saat ini. Menulis untuk mengurangi ketakutan, kekhawatiran, dan keraguan saya mengenai banyak hal saat mengalami dan harus menjalani hidup di tengah wabah. Membantu saya menilai ulang dan mengubah semua rencana serta menyesuaikan diri dengan banyak perubahan yang akan terjadi di depan sana. Berusaha tetap sehat badan dan jiwa dalam arti sesungguhnya.
With God will... saya akan mampu melakukannya seperti janji di perhentian terakhir Tower 23 Mutianyu - Great Wall, beberapa tahun lalu. Agaknya perjalanan menuju tower terakhir yang dilalui dengan perjalanan panjang penuh kelok, naik dan turun serta menanjak dan melewati jalan yang terjal sama dengan kehidupan yang saya jalani saat ini. Semangat yang berganti meredup saat lelah dan ragu datang. Keinginan ingin berhenti menyelesaikannya meski belum tiba di garis akhir. Berkali kali berhenti mengatur napas karena oksigen yang kian menipis karena pendakian ke puncak. Berkali-kali pula meyakinkan diri bahwa saya akan tiba garis akhir yaitu Tower 23.
I DID IT...saya sampai di Tower 23. Teman-teman yang berjalan bersama saya ke Tower 23 pun juga sampai di sana dengan waktunya masing-masing. Agaknya tiap orang akan tiba di garis akhir yang diinginkan dengan waktunya masing-masing dengan menjalani proses dan pengalamannya sendiri-sendiri. Ini bukan kompetisi siapa yang tiba lebih dulu tapi lebih dari itu, kemampuan melewati semua proses hingga tiba di garis yang ingin dicapai.
Di Tower 23 saya berjanji seberapa sulit, berliku dan turun naik yang saya rasakan dalam perjalanan hidup, saya akan terus menyemangati diri saya untuk menaklukan keraguan dan keinginan untuk menyerah menghadapi situasi sesulit apapun, termasuk situasi yang saya hadapi di masa wabah ini. Menikmati semua proses sampai di garis akhir yang saya tetapkan. Semoga... ( SWA )

Komentar
Posting Komentar