GET START, LEARN AS YOU GO AND IT WILL COME TO YOU
Wabah Covid-19 yang masih berlangsung saat ini dan banyak batasan yang harus dijalani oleh semua orang, saya mulai menemukan cara baru untuk bersosialisasi. Sebelumnya yang hanya bersosialisasi dengan teman sekantor atau beberapa kawan dekat sepulang kerja yang ironisnya semakin hari makin jarang saya lakukan. Saya bukan tipe orang yang mempunyai banyak kawan dekat dan kerap kali hang out bersama kawan-kawan. Semakin saya tua, semakin malas saya untuk hang out pulang kantor. Meski kadang saya lakukan, itu pun sebatas makan bubur ayam atau makan apapun di pinggir jalan sambil menunggu lalu lintas lebih lengang.
Dunia masih dihantui oleh wabah covid-19 dan sudah berlangsung hampir 7 bulan , meski di Indonesia baru dilaporkan setelah ada kasus positif di awal Maret. Wabah yang mampu merubah semua sendi-sendi kehidupan. Contoh kecil yaitu sebelumnya etika kita adalah berjabat tangan ketika kita bertemu dengan orang atau cium pipi kanan dan kiri jika jika kaum wanita bertemu dengan kawan dekatnya. Namun hal yang sederhana ini berubah karena wabah Covid-19. Jaga jarak, penggunaan masker, cuci tangan menjadi suatu kebiasaan baru yang harus dilakukan atau penerapan protokol kesehatan dalam kegiatan sehari-hari. Tidak ada lagi kedekatan atau keintiman dalam bersosial yang sebelumnya merupakan kewajaran.
Jujur meski saya tidak terlalu menyukai hang out bersama teman-teman, tidak bisa dipungkiri bahwa sebagai mahluk sosial berbagai batasan yang harus dilakukan terkait wabah Covid-19 sangat menyiksa dan membuat gila. Gila karena apabila lalai menerapkan protokol kesehatan, maka nyawa menjadi taruhannya. Apalagi mulai digerakkannya roda perekonomian yang memungkinkan mobilisasi masyarakat semakin tinggi. Jelas semakin khawatir karena jumlah angka positif Covid-19 semakin lama semakin tinggi. Di lain pihak saya khawatir terjangkit virus namun secara bersamaan bagaimana untuk melanjutkan hidup jika tidak bekerja.
Sudah hampir 4 bulan saya tinggal di rumah, karena memang perusahaan saya termasuk yang terdampak dengan wabah ini sehingga belum bisa melanjutkan operasionalnya. Waktu luang yang banyak digunakan untuk mereset ulang semua rencana dan melakukan penyesuaian dengan realitas dimana saya sudah tidak mempunyai penghasilan tetap. Butuh beberapa saat untuk menerima kenyataan tersebut, sampai saya mengikuti kursus secara online baik mendaftarkan sebagai penerima kartu pekerja atau secara mandiri dengan biaya pribadi. Pada dasarnya saya menyukai belajar hal baru. Jadi pada saat orang ribut tentang kartu pekerja saya justru ingin tahu apa yang ditawarkan oleh kartu pekerja.
Saya beruntung karena tidak mendapatkan kendala pada saat saya mendaftar, ikut tes dan diterima sebagai penerima kartu pekerja. Sebagai seseorang yang terkena dampak PHK karena wabah Covid-19, saya pikir ada baiknya saya mengambil semua peluang belajar keahlian yang kelak akan berguna bagi saya, itu sebabnya saya memilih untuk ikut tes menjadi penerima kartu pekerja. Selain itu juga pada keingintahuan mengenai belajar secara online yang sangat diskeptiskan oleh banyak orang. Terlepas bahwa program kartu pekerja bermuatan politik atau atau hal lain yang diperdebatkan, bagi saya ini peluang untuk belajar ketrampilan dan bertemu dengan banyak orang melalui kursus online yang ditawarkan berbagai platform.
Beberapa kelas yang saya ikuti melalui kartu pekerja dengan cara meredeem saldo 1 juta yang saya dapatkan. Selain ilmu yang didapat, juga membuka wawasan baru mengenai belajar di kelas online, bagaimana materi disampaikan, bagaimana pengajar berinteraksi dengan pesertanya, materi apa yang dapat dijadikan ketrampilan bagi peserta kelas yang nantinya berguna bagi pengembangan karir seseorang dan yang terpenting membuka wawasan karena berkumpulnya berbagai karakter dan latar belakang peserta di kelas online. Buat saya ini sangat menyenangkan, karena saya mendapatkan kawan-kawan baru dengan latar belakang yang berbeda dan berdomisili terkadang jauh dari pulau Jawa. Meski belajar dengan menggunakan fasilitas zoom ataupun dengan menggunakan WA, namun saya dapat mengikuti berbagai ketrampilan yang diberikan.
Bagi saya terlepas dengan banyak perdebatan mengenai kartu pekerja, kelas online yang diadakan dapat merobohkan sekat sekat pendidikan. Yang sebelumnya dikotak-kotakan dengan adanya lebel sekolah favorit, non favorit, sekolah yang didominasi oleh level ekonomi tertentu yang membuat banyak kesenjangan bagi tiap orang untuk mendapatkan pendidikan dan ketrampilan. Belum lagi diskriminasi umur, status sosial yang membuat tidak meratanya kesempatan seseorang mendapatkan ketrampilan. Pendidikan sekarang ini hanya sebatas mengeluarkan ijazah yang dijadikan lebel bahwa si A lulusan dari universitas Z dan si B lulusan dan universitas X. Padahal realitas di dunia kerja adalah siapa yan mempunyai ketrampilan lebih mumpuni dialah yang akan menang dalam berkompetisi, apalagi di era menuju revolusi industi 4.0. Izasah kelak hanya akan menjadi lembaran kertas , karena kompetensi dan soft skill yang kelak digunakan sebagai modal berkompetisi.
Jadi kelas online kenapa tidak ? betul ada beberapa hal yang harus diperbaiki tapi ide besarnya menurut saya sangat bermanfaat. Kita bisa belajar dengan para ahlinya, melakukan praktek secara kreatif dari ketrampilan yang dipelajari sekaligus bersosialisasi dengan peserta lain melalui teknologi. Tidak berhenti disana mitra kartu pekerja yang saya ikutipun membentuk komunitas. Mereka mengundang banyak orang untuk bergabung dalam komunitas dengan latar belakang usia, pendidikan, pekerjaan untuk berdiskusi berbagai topik, memberikan semangat dan motivasi, memberikan informasi mengenai peluang baru, berbagi ilmu atau sekedar link diskusi yang menarik bagi komunitasnya. Buat saya ini jauh bernilai dibanding insentif yang saya dapatkan.
Ikut kartu pekerja bukan untuk mendapatkan insentif, namun hal yang lebih besar yang ingin saya dapatkan yaitu insight mengenai bagaimana memberikan pendidikan dan berbagi ketrampilan yang lebih bernilai dimasa yang akan datang yang berbeda dengan pendidikan tradisonal di Indonesia saat ini yang lebih mengedepankan belajar lalu ujian dari jenjang SD sampai Universitas. Jadi yang saya lakukan adalah tidak perlu terlalu skeptis dengan hal baru, cari tahu, pelajari dan ambil pelajaran dari sana untuk pengembangan diri. Mungkin ini hikmah dari wabah Covid-19 buat saya pribadi, karena lebih mengenal diri saya, mengenal apa yang jadi kekuatan serta kelemahan. Menemukan kembali apa yang sebetulnya paling saya inginkan untuk menjalani sisa usia saya. Sisa usia yang semoga dapat bermanfaat bagi sekitar saya.
(SWA)


Komentar
Posting Komentar