KOSONG



Sabtu lalu hari pertama kelas mengaji saya. Entah mengapa tahun ini saya ingin sekali menghadiahi diri saya dengan bisa mengaji dengan benar. Sebelumnya saya belajar mengaji saat saya masih SD dengan menyelesaikan Juz Amma.  Jadi bacaan Al Quran lebih pada hapalan yang  sudah tidak dipedulikan apakah bacaannya benar atau tidak.

Jadi saya putuskan untuk memanggil guru mengaji ke rumah untuk mengajari dari Iqro. Ada perasaan malu karena  masih belum pandai mengaji. Sebelumnya saya mengaji menggunakan Al-Quran dengan dilengkapi latin, sehingga ketika mulai terbata-bata, huruf latinlah yang membantu saya melafalkan bacaan Arab tersebut. Beberapa kali khatam Al Quran namun dengan membaca latinnya. Bukan sesuatu yang membanggakan namun lebih kepada hitungan dalam setahun berapa kali sudah membaca Al Quran.

Tahun ini usia saya akan menginjak 45 tahun, entah mengapa ada perasaan bahwa kehidupan saya selama ini rasa kurang bermakna. Saya mencoba berprilaku baik dalam artian beribadah dengan mengikuti tuntunan, sholat 5 waktu, Mengaji meski dengan membaca latinnya , Puasa Ramadhan dan sesekali melakukan ibadah sunah. Belakangan ini mulai mempertanyakan jilbab yang saya pakai. Saya memakai jilbab setahun setelah ibu saya meninggal. Tidak ada hal yang membuat saya harus memakai jilbab, tidak mimpi atau apapun yang entah apakah dinamakan hidayah saat itu, hanya keinginan untuk memakai saja.

Bertahun-tahun saya memakai jilbab jika akan berpergian keluar rumah, namun pada saat di rumah saya masih menggunakan memakai celana pendek dan tidak menggunakan jilbab jika untuk menyapu halaman rumah, mengurusi tanaman atau membeli sayuran di tukang sayur keliling. Terkadang pun saya memasang photo profil tanpa jilbab di media sosial yang saya punya. 

Jujur saat ini saya memakai jilbab lebih kepada belum siap dengan berbagai komentar dari  orang lain termasuk keluarga saya. Saya juga malas menjawab pertanyaan mengapa saya melepas jilbab atau menjelaskan alasan tidak berjilbab lagi belum lagi dengan sindiran yang belum dapat saya abaikan. Rasanya saya masih suka kepikiran pandangan dan komentar orang lain terhadap saya.

Makin hari ada keinginan yang makin menguat yaitu mempelajari Islam dengan lebih baik, ber Tauhid dengan ikhlas dan merasakan nikmatnya mengenal Tuhan saya tanpa harus khawatir akan pandangan dan komentar orang lain.  Jadi saya memulainya dengan belajar kembali membaca tuntunan berwudhu, tuntunan sholat wajib dengan benar melalui buku-buku milik ibu saya atau buku masa kecil  yang masih saya simpan, dan sekarang ini mulai belajar membaca Al Quran dengan benar.  Saya ingin merasakan keyakinan akan Islam dengan pemahaman yang benar akan Gusti Alloh SWT. Hubungan pribadi yang lebih bermakna dan tidak hanya melakukan ritual yang tidak meninggalkan jejak antara  hamba dan Tuhannya.

Ini bukan mengubah Tauhid atau keyakinan akan Islam sebagai agama yang saya anut sejak kecil, namun mengenal agama yang saya anut  dengan mempelajari dan melakukan ritual ibadah atau tuntunan agama dengan cara dan pemahaman yang benar. Kelak saya ingin mengaku Islam dengan sepenuh hati hanya untuk Gusti Alloh SWT, bukan karena pandangan orang lain, bukan untuk menyenangkan orang lain, bukan karena takut akan komentar orang lain, bukan karena agama yang saya bawa dari orang tua saya. Menemukan makna sesungguhnya mengenai Islam yang saya anut dan menjalani hidup sesuai dengan tuntunannya hanya semata-mata untuk Gusti Alloh SWT.

Wabah yang sudah berlangsung 4 bulan sedikit banyak mengubah cara pandang saya akan kehidupan secara fundamental dan menyeluruh bukan hanya pada permukaan atau artifisial  namun kosong  di dalamnya. Ya... saya harus memulainya dari hal yang sifatnya personal yaitu agama yang saya anut. Islam yang saya yakini sebagai kelak akan saya pertanggungjawabkan dihadapan Gusti Alloh SWT.  Semoga istiqomah.... ( SWA )




Komentar

Postingan Populer