ROTI UNYIL PERTAMA

Setelah menyelesaikan kelas online yang saya ambil dari kartu pekerja, saya penasaran untuk mempraktekkan materi yang sudah saya pelajari. Jadi pagi itu saya buka lagi video tutorial dan membandingkan dengan resep yang ada dalam blog chef yang kerap kali saya baca artikelnya.

Semenjak perusahaan saya dibekukan karena terimbas Covid-19, kegiatan yang saya lakukan salah satunya adalah membuat kue. Sejak dahulu saya menyukai kegiatan memasak, mungkin menurun dari keluarga ibu yang  kebanyakan anak perempuannya pintar memasak. Kalau saya rasanya pintar sih belum, tapi keahlian yang saya pelajari di kursus memasak beberapa tahun yang lalu. Saya pikir dengan keahlian ini kalau tidak menghasilkan uang paling tidak bisa memasak untuk keluarga saya, sederhana saja pemikiran saya mengapa saya kursus memasak waktu itu. 

Jadilah sepanjang siang saya menyiapkan bahan makanan, menimbang sesuai dengan ukuran yang tertera dalam resep. Kali ini harus berhasil mengingat  pembuatan roti unyil ini sudah kali ketiga. He..he.. dua yang pertama gatot alias gagal. Mengikuti persis ukuran dalam resep dan melakukan tahapan-tahapan seperti yang ada dalam resep, itu yang saya lakukan kali ini. Entah mengapa rasanya adonan yang saya buat kali ini akan berhasil. Untuk rasa tidak ada tes cicip, karena kebetulan saya puasa. Jadi saya pikir kalau sudah mengikuti resep artinya sudah teruji   hasilnya. Perasaan saya mengatakan bahwa akan ada kejutan manis di ujungnya.

Tibalah waktu memanggang adonan roti manis yang sudah saya bentuk menyerupai yang ada dalam contoh dan setelah diisi dengan  selai kacang dan keju mozzarela. Ada rasa deg-degan mengingat dua kali gatot alias gagal total. Jadi setelah aroma roti sudah tercium ke seluruh penjuru rumah tiba lah saya mengecek oven mengingat sudah 20 menit. Alhamdulillah, roti unyil mengembang dengan sempurna. 

Tepat ketika roti unyil dikeluarkan dari oven, kakak saya pulang dari berkegiatan di luar, he..he.. dia adalah korban pertama yang harus mencicipi roti yang dari penampakannya menggugah selera. Dia bilang enak tapi kalau saya belum coba sendiri kadang  ragu dengan penilaiannya. Kadang kakak saya suka tidak enak hati jadi suka tidak jujur kasih penilaian. Mungkin dia takut saya tidak bukakan pintu dan dibuatkan sarapan pagi makanya kalau ditanya enak tidak, jawabannya selalu enak, ha...ha...ha.



Tapi terserahlah dengan selera dan penilaian rasa kakak saya, yang penting adalah penilaian penampilan dari roti unyil terlebih dahulu. Buat saya tekstur roti yang lembut dan  rasa yang lezat dapat dilatih agar kelak produk dapat dijual secara premium. Rasanya kalau urusan rasa makanan menurut saya, saya punya taste yang baik terhadap suatu makanan, cuma penilaan objektif tetap harus dari orang lain mengingat saya berharap bisa menjual produk ini dan tentunya yang paling menyenangkan adalah produk saya disukai. Hmmm...hmmm what a day and  i DO love monday because of my  roti unyil, Alhamdulillah. (SWA)









Komentar

Postingan Populer