SEUTAS PERMINTAAN DOA

Minggu lalu, anak pertama dari almarhum kakak nomor 2 saya menikah. Haru, bahagia, sedih karena gadis kecil yang dulu suka mencuri pandang  dan menatap saya lekat-lekat  melangkah menuju kehidupan barunya. Saya tidak terlalu dekat dengan kemenakan-kemenakan saya. Jarak yang memisahkan kami karena saya tinggal di Jakarta sedangkan kakak laki-laki saya  bersama keluarganya tinggal di Yogya.

Semenjak kakak saya meninggal saya agak jarang ke Yogya. Kalaupun berkunjung tidak pernah lebih dari 3 hari. Itu saya lakukan karena berziarah ke makam Bapak dan Ibu  yang memang keduanya dimakamkan di Yogya. Kadang saya sangat rindu dengan Bapak dan Ibu saya sehingga setiap tahun saya usahakan berkunjung ke makamnya dan biasanya sesekali saya sempatkan menemui kemenakan saya. 

Tak terasa waktu berlalu dengan cepat dan gadis kecil itu sudah tumbuh menjadi gadis cantik yang siap untuk melangkah menuju kehidupan barunya bersama laki-laki yang pasti dicintainya. Rasa syukur karena gadis itu bisa melewati masa remaja dan masa sekolahnya dengan baik. Saya memang bukan *bule mereka yang baik dalam arti sesungguhnya. Namun saya akan mengupayakan agar kemenakan saya dapat melewati masa remaja dan masa sekolahnya dengan baik.

Hubungan kami sedikit berubah setelah kakak ipar saya menikah kembali beberapa tahun yang lalu. Meskipun demikian saya tetap berhubungan dengan kemenakan walaupun hanya sekedar menanyakan sekolahnya atau keseharian mereka. Tidak  dekat secara fisik namun secara batin mudah-mudahan hubungan kami dekat meski dengan keterbatasan jarak.

Malam saat gadis itu menghubungi saya untuk meminta doa restu, entah mengapa saya teringat almarhum kakak saya dan yakin almarhum  bahagia sekali di sana karena gadis kecilnya akan menikah. Gadis itu ingin saya  mendoakan kebahagiannya karena dia ingin keberadaan bapaknya hadir melalui saya. Bahagia dan haru karena gadis itu sudah mampu memutuskan hidupnya sendiri bersama laki-laki yang dia cintainya. Gadis kecil yang suka menatap saya lekat-lekat sudah siap melangkah menuju  kehidupan berikutnya. 

Ada kesedihan bergayut di hati saya karena saya harus melewatkan lagi dan tidak dapat menghadiri banyak hal dikeluarga kami;  kematian, kelahiran dan pernikahan anggota keluarga, karena wabah yang belum juga mereda.  Ya... pasti ada hikmah dibalik wabah Covid-19.  Karena selalu ada saja kebahagian lain  menggantikan kesedihan karena baru saja kehilangan anggota keluarga beberapa bulan lalu. 

Selamat mengarungi hidup baru gadis kecil mas Edi. Semoga segala hal baik senantiasa menyertai kehidupan baru kalian. ( SWA )


* bule : sebutan untuk tante / adik dari ayah atau ibu dalam tradisi Jawa

Komentar

Postingan Populer