FILOSOPI BANDENG

Ada hal yang menarik yang saya lakukan beberapa minggu belakangan ini. Kegiatan yang dilakukan bersamaan dengan pekerjaan baru yang saya kerjakan dari rumah. Semenjak wabah rasanya banyak waktu yang sayang jika dibiarkan berlalu. Salah satunya menekuni hal yang dulu pernah saya pelajari secara formal.
Beberapa tahun yang silam, saya pernah kursus memasak. Iseng saja waktu itu, namun ternyata secara tidak sengaja mempertajam kemampuan saya dibidang ini. Tanpa bermaksud menyombongkan diri namun kemampuan memasak menurun dari keluarga ibu. Hampir semua anak perempuan dari garis ibu bisa memasak.
Ada salah satu masakan yang dulu pernah saya buat saat ibu masih hidup. Bandeng isi tanpa tulang atau banyak menyebutnya otak-otak Bandeng. Resep dari tabloid Nova yang saya pernah praktekan untuk hidangan arisan keluarga saat itu. Saya ingat beberapa kali saya memasaknya saat ibu ingin makan masakan ini. Salah satu masakan kesukaan ibu waktu itu. Bandeng isi sesungguhnya adalah Bandeng yang durinya sudah dibuang dan diisi kembali dengan daging Bandeng yang sudah dicincang halus bersama bumbu. Setelah dikukus, digoreng bersama kocokan telur untuk disajikan bersama sambal bajak dan lalapan.
Entah mengapa tiba-tiba beberapa minggu lalu saya teringat makanan ini. Saya sendiri bukan penggemar ikan. Sekali-kali bolehlah, biasanya saya santap jika diolah dengan diberi bumbu sambal atau sekedar digoreng. Namun jika ada pilihan makanan lain agaknya saya memilih melewatkan makanan ini. Namun berbeda dengan Bandeng isi, saya sangat menyukainya. Mungkin karena daging yang dicincang dan sebenarnya sudah gurih menjadi lebih nikmat setelah dicampur dengan bumbu. Yang terpenting tentunya tidak perlu khawatir dengan duri Bandeng halus yang menyangkut di leher.
Ada hal yang saya nikmati saat membuat sendiri makanan ini. Tantangan ketika harus mengeluarkan duri dari dalam daging tanpa merobek keseluruhan kulit luar Bandeng adalah hal yang paling saya sukai. Mengisi kembali kulit Bandeng dengan daging Bandeng yang sudah dicincang halus bersama bumbu dan mengisi kembali hingga menyerupai Bandeng utuh adalah hal lain yang punya seni sendiri. Yang paling menyenangkan tentunya melihat senyum mengembang saat anggota keluarga menikmati Bandeng isi tanpa tulang bersama nasi panas dan sambal bajak.
Memasak memang tidak melulu mengenai teknik memasak tapi juga seni yang melibatkan rasa. Lalu mengapa ikan Bandeng yang jadi pilihan , entahlah mungkin karena ternyata ada filosopi dibalik makan ikan Bandeng. Filosopi yang menjadikan menu Bandeng isi menjadi masakan favorit saya saat ini. Ikan Bandeng memiliki makna tertentu bagi ras TiongHoa. Seseorang yang makan ikan Bandeng butuh kesabaran tinggi karena ikan ini memiliki banyak duri halus. Orang yang memakan ikan Bandeng dipercaya akan bisa melewati berbagai rintangan hidup selama setahun selain dipercaya sebagai simbol keberuntungan. Itu sebabnya selalu menjadi hidangan wajib saat perayaan imlek.
Buat saya filosopi Bandeng adalah bagaimana menjalani hidup. Jika ingin menggapai sesuatu pasti harus melewati banyak kesulitan yang disimbolkan oleh duri dan butuh kesabaran untuk melewatinya. Buat saya melihat senyum penikmat Bandeng isi buatan saya tanpa khawatir duri menyangkut di leher adalah hal yang paling membahagiakan. Sesederhana itu. ( SWA )

Durasi 90 menit
10 potong Porsi
Bahan Bahan
- Bahan:
- 2 ekor (600 gram) ikan bandeng
- 1 sendok teh air jeruk nipis
- 1 sendok teh garam
- 2 butir telur untuk pencelup
- 1 liter minyak untuk menggoreng
- Bahan isi:
- 350 gram daging bandeng
- 150 gram tahu, dihaluskan
- 2 butir telur
- 1 1/4 sendok teh garam
- 2 sendok teh gula pasir
- 2 sendok makan minyak untuk menumis
- Bumbu halus:
- 1 sendok teh terasi, bakar
- 8 butir bawang merah
- 4 siung bawang putih
- 1 sendok teh ketumbar bubuk
- 2 cm kunyit
- 2 cm jahe
Sumber resep: https://sajiansedap.grid.id/read/10762041/resep-bandeng-isi-tanpa-duri

Komentar
Posting Komentar