IBU

Hari ini tepat hari ulang tahun Almarhumah ibu. Jika usianya panjang beliau berusia 75 tahun hari ini. Namun Alloh SWT mencintai ibu dan memanggilnya "Pulang" diusia 65 tahun. Hari itu tidak akan pernah saya lupakan. Minggu sore dimana belasan miss called, sms dan wa yang tak terjawab dari kerabat saya masuk ke HP saya. Hari itu saya tidak menyadari bahwa seluruh keluarga dan kerabat khawatir karena tidak bisa menghubungi saya.
Tidak ada firasat Ibu akan "pulang", tidak ada mimpi atau ucapan selamat tinggal yang kami ucapkan saya saat terakhir mengantar ibu pulang ke Yogya seminggu sebelumnya untuk berlebaran bersama nenek saya yang sudah sepuh. Yang saya ingat, kami hanya diam sepanjang jalan menuju airport hanya janji dalam hati bahwa saya akan menjemputnya saat Lebaran usai. Ya seandainya saya tahu itu hari terakhir saya bertemu dengannya, akan saya peluk erat ibu dan mengantarkan Ia pulang ke Yogya. Seandai saja...
Dunia runtuh sewaktu sms dari adik ibu, mengabari kalau Ibu meninggal setelah sebelumnya sepupu saya sudah datang ke rumah untuk meyakinkan mengenai kabar ibu saya meninggal. Saya memang tidur waktu itu dan tidak mendengan panggilan telepon, SMS atau Wa yang masuk. Jadi kabar pertama yang dibawa sepupu saya saat itu, belum bisa saya cerna. Bingung menjawabnya, dan seketika tidak tahu harus berbuat apa dan bagaimana mengolah semua informasi ibu meninggal. Hampa.....
Sore itu kami bertiga pulang dengan kereta malam ke Yogya, saya, sepupu dan kakak perempuan. Ibu dimakamkan keesokannya menunggu saya tiba. Yang saya lakukan hanya mengabari tetangga kiri kanan untuk menitipkan rumah selama saya tidak ada dan mengabarkan mengenai berita duka ketetangga saya. Pelukan seorang tetangga tak dapat menghentikan tangis saya saat itu. Yang saya ingat sepanjang perjalanan ke Yogya, saya menangis meratapi kepergian ibu. Kereta malam waktu itu yang hanya diisi beberapa orang termasuk kami dalam gerbong saya. Gerbong menjadi sangat dingin dan membuat saya semakin merana dan merasa sebatang kara ditinggal ibu.
Saat tiba di rumah kami di Yogya, melihat rumah dipenuhi orang yang bertakziah dan menyalami saya, berulang kali meyakinkan apakah ini sungguhan atau jika mimpi, saya ingin segera bangun. Saya cuma ingin menangis menyesali Ibu "pulang" tanpa pamit kepada saya. Saya tidak ingin melihat jenasah ibu untuk terakhir kalinya, meski kakak saya memaksa. Saya ingin mengingat ibu saat ia hidup dan sangat cantik saat mengenakan rok ungu dan hem kembang-kembang, baju yang sering ia gunakan. Saya tidak ingin mengingat wajahnya saat terbujur kaku dalam diam diakhir hayatnya.
Waktu itu saya cuma menangis sewaktu menunggu jenasah disholatkan dan dimakamkan pagi itu. Tidak ada yang mengajak bicara, agaknya semua keluarga dan kerabat memberikan kesempatan saya untuk berduka. Duka yang teramat dalam hingga yang dilakukan saat itu adalah meratapi kepergian ibu. Sampai satu ketika sebelum jenasah dimakamkan sepupu saya mengingatkan bukanlah orang yang beriman jika meratapi kematian yang sudah ditakdirkan sang Pencipta dan sang Pemilik.
Saya memang berhenti meratap setelahnya tapi duka ditinggal seseorang yang paling dicintai terus berbekas sampai hari ini. Saat sedih, terluka, ragu dan khawatir menjalani masa masa sulit dalam kehidupan bahkan saat bahagia, saya berpikir seandainya Ibu masih ada, Ia pasti akan memeluk dan bilang semuanya akan baik-baik saja.
Tiap berdoa,saya selalu mengulang janji dan menguatkan hati untuk berjuang mengupayakan sekuat tenaga mewujudkan keinginan Ibu untuk berbahagia. Kelak jika bertemu ibu kembali, beliau akan senang ia membesarkan anak perempuannya dengan baik. Ajaran agama, nilai kehidupan, kesederhanaan, cinta kasih, kesetian dan kebesaran hatinya akan hidup dan menjadi pegangan saat merasa sendiri dan bingung serta mulai kehilangan arah.

Ibu, You always in my mind, my heart and my soul. I love you more than anything in the world and today I miss you a lot, i wish you are here to comfort me. Al Fatihah...., and may God put you in Janna.

Komentar
Posting Komentar