MEMBAYAR HUTANG

Tak terasa sudah dipertengahan November. Waktu berlari  dan tak terasa sudah berada di penghujung. Tahun 2020, tahun yang tak pernah terbayangkan dilalui bersama dengan wabah Covid-19 yang melanda hampir di seluruh dunia. Wabah yang merusak semua rencana yang disusun awal tahun dan memaksa untuk mengubah dan menyesuaikan diri dengan ketidak pastiaan.

Tantangan terberat sebetulnya bukan mengubah rencana tapi menyesuaikan rencana saat banyak ketidakpastian akibat wabah yang entah sampai kapan akan berakhir. Bulan ini pemerintah  mengumumkan Indonesia masuk ke masa resesi. 2 Quarter berturut-turut pertumbuhan ekonomi minus. Makin bertambahnya  pengangguran karena perusahaan sudah tidak lagi mampu membayar biaya operasional, sehingga banyak orang sudah tidak lagi mempunyai daya beli atau jika masih akan menahan diri untuk membelajakan uang. Saya yang termasuk memasang mode bertahan ditengah wabah. Bertahan untuk tetap sehat supaya dapat berpikir dengan jernih untuk melangkah. Butuh upaya untuk menyesuaikan diri secara mental dan tetap waras di situasi ketidakpastian.

Jujur saja banyak berkat dari Alloh SWT kepada saya. Saya termasuk yang diberi cukup untuk bertahan. Cukup untuk mensupport orang tua yang telah lanjut usia, membayar tagihan bulanan, makan dan sedikit uang yang saya paksa untuk ditabung. Saya pun mendapat peluang dari kawan untuk bisa memasarkan Bandeng saya di luar pekerjaan utama saya. 

Memanfaankan peluang recehan pun dijaman yang serba sulit butuh kerja keras, dipaksa bangun sebelum orang lain bangun, mengerjakan barang dagangan sampai mencari driver untuk mengantarnya belum lagi kerumitan administrasi termasuk bagaimana membuat pemasaran. Melakukan semuanya   sendiri untuk momotong biaya operasional. 

Membuat produk ternyata bukan perkara mudah. Perlu trial and error untuk mendapatkan produk yang bagus dan layak dijual. Dengan modal tabungan yang saya punya dan kenekatan, saya memberanikan diri untuk berjualan produk saya dengan dibantu kawan saya memasarkan dagangan. Tiada hari tanpa berpikir bagaimana agar dapat bertahan sebagai pengusaha kecil yang sedang membesarkan usahanya. Saya memang ditakdirkan berjuang lebih keras dibandingkan yang lain dan harus melalui tempaan besar dibanding yang lain. Orang yang tanpa privilage, yang tidak ada satupun  tanpa kerja keras yang kadang harus menyingkirkan rasa malu. Mungkin  ini yang membuat Tuhan jatuh iba kepada saya.

Tak terhitung berapa kali lelah dan takut menyerang mental saya, situasi kejiwaan yang saat ini sering muncul  dan membuat saya susah tidur. Akhirnya menyerahkan hasil akhir kepada Alloh SWT  yang menenangkan saya. Satu doa yang saya selipkan agar kelak jari jari ini bersaksi bahwa saya berikhtiar untuk menjadi orang yang bermanfaat dan tidak masuk dalam golongan peminta-minta. Kelak jika saya bertemu dengan ibu, Ia akan bangga bahwa dia membesarkan anaknya dengan baik. 

Tujuan hidup saya sekarang sederhana saja, menjalani hidup dengan baik untuk membalas budi orang-orang yang hadir dalam hidup saya, yang sudah memberikan banyak kesempatan. Setelah semua terbayar lunas, saya akan tenang jika dipanggil "pulang". Hoping that God will hear my prayer.




Komentar

Postingan Populer