MENDUNG DI KAMIS, 14 JANUARI 2021
Sepanjang hari ini mendung , tidak turun hujan namun mendung menggayut semenjak subuh. Pagi itu saya memutuskan untuk tidak jogging kebiasaan yang mulai saya giatkan usai Tilawah setelah sholat subuh. Udara yang sebenarnya sangat enak untuk berolahraga saat itu.
Namun siapa sangka mendung yang menggayut sejak subuh adalah tanda seorang hamba yang soleh akan berpulang kepada Tuhannya. Seorang guru dan ulama besar, pagi ini berpulang menghadap sang Khalik. Mendung seolah-olah memayungi kepulangannya kepangkuan sang pemilik sejati kehidupan.
Saya tidak mengenal beliau secara dekat namun hanya sebagai murid yang beberapa tahun menghadiri Majelis ilmu yang dipimpin beliau tiap Rabu Malam di Mesjid Sunda Kelapa. Mesjid Sunda Kelapa memang istimewa buat saya. Mesjid yang punya kenangan spiritual tersendiri.
Di mesjid Sunda Kelapa juga saya mengenal beliau pertama kali. Berawal dari mengikuti sholat jamaah yang dipimpin beliau. Suara yang merdu saat membaca bacaan sholat dan terkadang menangis tersedu-sedu karena menghayati surat yang dibacanya saat sholat. Dan tiap rabu malam ada kajian ilmu mengenai Al Quran yang dipimpin beliau di mesjid Sunda Kelapa. Saya sendiri selalu mengupayakan untuk menghadiri kajian ilmu yang dipimpin beliau sekaligus berkat mendapat magrib dan isya berjamaah yang diimami beliau.
Yang saya kenang dari guru saya adalah cintanya yang besar terhadap Al Qur'an dan selalu mendorong murid-muridnya untuk belajar membaca Al Quran dengan benar. Pernah suatu ketika saat kami belajar membaca Al Quran, guru kami menyuruh kami membaca Al-Fatihah. Well... rasanya hanya segelintir orang yang berhasil membaca sampai akhir tanpa dikoreksi beliau. Selebihnya termasuk saya disuruh berulang-ulang membaca sampai bacaan dan tajwidnya benar. Namun dengan sabar beliau mengajari kami meski logat dan lidah kami berbeda dengan orang Arab. Guru kami memang berasal dari Madinah.
Sosok yang selalu bertutur dengan santun bahkan saat menegur saya yang sering tertidur saat menghadiri majelis ilmunya. Saya memang bukan murid yang baik karena sering tertidur karena kelelahan setelah bekerja seharian. Dengan tutur katanya yang halus disuruhnya saya berwudhu dan kembali melanjutkan belajar.
Entah kapan tepatnya saya berhenti menghadiri majelis ilmunya setelah beliau memindahkan majelis ilmunya ke kediamannya di Rawamangun. Dengan alasan kesibukan, saya berhenti menghadiri majelis ilmunya.
Bertahun kemudian saya mulai berusaha merutinkan membaca Al-Qur'an meski hanya membaca huruf latinnya. Tahun lalu ada keinginan yang begitu kuat untuk mengenal Islam, agama yang saya bawa dari lahir. Saya tidak dibesarkan di keluarga yang taat beribadah, meski almarhumah ibu adalah wanita yang saleh. Namun belum ada kesadaran mengapa saya harus berislam. Berislam hanya sekedar melanjutkan apa yang saya bawa dari lahir. Beribadah hanya sebatas menggugurkan kewajiban dengan ritual yang tak bermakna.
2020 adalah tahun dimana saya memeriksa ulang seluruh kehidupan saya termasuk memeriksa keislaman saya. Saat itulah ada keinginan kuat untuk belajar Al Qur'an dengan benar. Saya ingin bisa membaca Al Quran dengan tartil dan tazwid huruf arab dengan benar. Ikhtiar yang saya upayakan sampai akhirnya saya mampu membaca Al Qur'an hari ini. Masih tertatih namun saya yakin dengan terus belajar saya akan membaca Al Qur'an dengan benar, seperti yang dimaui oleh guru saya.
Pagi ini saat saya mendengar guru saya wafat, rasanya tidak percaya. Entah berapa kali saya menghapus air mata saat melihat berita mengenai wafatnya beliau. Saya kehilangan guru yang dulu selalu mengingat muridnya untuk mempelajari Al Qur'an dan sungguh-sungguh menjadikannya sebagai teman baik dalam suka maupun duka. Butuh bertahun-tahun dari terakhir saya menghadiri majelis ilmu guru saya, akhirnya saya belajar Al Qur'an dan istiqomah menjadikan Al-Qur'an sebagai teman baik disuka maupun duka.
Selamat jalan Syekh Ali Jaber, muridmu yang sering tertidur di majelis ilmumu akan merindukan suaramu yang merdu saat mengimami shalat jamaah dan mendengarkan tausiah dimajelis ilmumu.
Pulanglah menghadap Alloh SWT dengan damai. Janna sudah menunggumu disana. Andai kelak kita jumpa di Akhirat, tolonglah muridmu yang banyak dosa.
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.” كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ [QS. Ali Imran: 185]


Komentar
Posting Komentar