” SILENCE IS A TRUE FIND WHO NEVER BETRAYS "



Di Twitter  ramai komentar dari warganya beberapa hari ini. Trending seorang artis yang ditunjuk sebagai influencer vaksin Covid-19, yang menghadiri pesta salah satu kawannya usai diberikan vaksin Covid-19. Ia berfoto bersama kawan-kawannya tanpa menggunakan masker.  Lalu ada  warga Amerika yang memposting pengalamannya menetap di Bali dan mendorong teman-temannya untuk pindah ke Bali. Tempat yang disebutnya sebagai surga karena banyak kemudahan  bagi mereka yang kurang beruntung di negaranya. Satu lagi yang menjadi trending adalah seorang penyanyi muda saat tampil di podcast seorang artis yang mengutarakan pendapatnya mengenai masyarakat kelas bawah. 

Kesamaan dari ketiganya, adalah sama-sama menggunakan  kebebasan pribadi menyampaikan pendapat dan berekspresi di ruang publik. Kebetulan ke tiganya terekspose di media sosial. Sosial media adalah sebuah  wadah untuk bersosialisasi satu sama lain dan dilakukan secara online yang memungkinkan manusia untuk saling berinteraksi tanpa dibatasi ruang dan waktu.

Saya tidak ingin mengomentari  apa yang mereka lakukan,  benar atau salah itu relatif. Saya hanya ingin mengambil pelajaran,  dari 3 kejadian di atas yaitu "Suatu ketika kita akan mengerti bahwa menahan diri untuk membuat seseorang tidak tersinggung oleh lisan kita lebih mulia daripada mengutarakan isi hati " kutipan Sandra Dewi yang diterbitkan beberapa waktu lalu. Kutipan yang relevan menurut saya saat ini.

Meski menjadi hak seseorang untuk mengutarakan pendapat pribadi namun ada kalanya diam adalah sikap yang bijaksana. Guru saya selalu mengingatkan jika tidak ada hal baik yang ingin dikatakan, diam. 

Diera kebebasan berekspresi, media sosial dijadikan tempat untuk berekspresi dan aktualisasi diri. Semua orang berlomba-lomba untuk membuat konten untuk dipublish di sosial media milik mereka dengan berbagai alasan yang melatarbelakanginya. Sejatinya konten di media sosial dapat dimanfaatkan sebagai self branding, namun sayang sering digunakan tidak semestinya. Demi sebuah konten untuk menaikan tagar dan trending di sosial media, beberapa orang mengabaikan etika dan kurang berempati dengan orang lain dan abai dengan masalah sosial yang terjadi.

Satu sebab, saya menutup account Facebook dan Instagram pribadi. Media sosial yang jarang saya update karena tidak ada hal penting yang perlu dan harus dibagikan. Kadang justru lebih sering buper dan iri melihat update keren-keren dari kawan dan membuat kesimpulan yang tidak benar hanya karena membaca  postingan  seseorang. Hal yang sedikit banyak mempengaruhi kesehatan mental saya dan sedikit manfaat yang saya dapatkan.

Media sosial memang pedang bermata dua. Butuh kebijaksanaan dan kedewasaan sipemakainya dan saya pembelajar yang masih jauh dari bijaksana. 








Komentar

Postingan Populer