WA KAFAA MAUTI WA IDZHO
Hari ini tepat 8 tahun kepulangan saudara kandung, kakak, teman dan sahabat terbaik, Edi! Banyak kenangan bersamanya. Edi adalah Kakak ke dua yang selalu setia menjemput dan mengantar jika saya pulang ke Yogya. Kami tinggal berjauhan. Ia dan keluarganya di Yogya sementara saya menetap di Jakarta. Setiap tahun, 1 atau 2 kali saya pulang ke Yogya, merayakan hari raya atau sekedar nyekar Ibu dan Bapak di Yogya. Edi akan menjemput dan mengantar ke stasiun Tugu. Diantara 2 kakak laki laki, Edi yang paling dekat dengan saya.
Diantara banyak kenangan bersamanya, percakapan terakhir bersamanya yang saya sesali. Percakapan yang saya harap tidak pernah terjadi. Pertengkaran konyol yang saya sesali sampai detik ini. Pertengkaran yang menjadi akhir dari komunikasi kami.
Setelahnya sore itu, 30 Januari, 8 tahun yang lalu, itu Edi "pulang". Kabar yag dibawa kakak ipar saya , seketika membuat dunia menjadi gelap. Saya lupa wajah Edi.. Saya berusaha mengingat wajahnya saat itu, tapi aneh saya benar-benar lupa wajahnya. Sekali lagi takdir harus diterima. Takdir yang menyedihkan setelah kehilangan ibu 4 tahun sebelumnya. Kesedihan yang besar karena saya tidak pernah sempat meminta maaf atas pertengkaran kami sebelumnya.
Sore itu, Edi pulang dengan tenang diusia yang belum menginjak usia 40 tahun. Pemakaman yang dihadiri oleh begitu banyak orang. Edi adalah orang yang supel dan punya banyak kawan. Ia dikenang oleh banyak orang sebagai laki-laki yang berhati baik. Kakak laki-laki yang sangat mencintai ibu, keluarganya dan selalu tulus membantu orang lain, meski ia sendiri kadang kekurangan.
Only good die young. Dihadapan Alloh SWT, bisa jadi Edi adalah hamba Nya yang sangat dicintai sehingga dipanggil pulang terlebih dahulu menyusul ibu. Edi meninggalkan saya pelajaran hidup. Pelajaran hidup yang jika boleh memilih tidak dengan cara yang saya alami. Ya...hidup benar-benar mengajari saya dengan sangat keras lewat kejadian itu.
Beberapa minggu setelah guru saya meninggal, entahlah perasaan ini agak melow. “Wa Kafaa Bil Mauti Wa Idzho, Cukuplah kematian sebagai pemberi nasehat” , nasihat Nabi Muhammad akan selalu menjadi pengingat dalam menjalani sisa hidup yang entah berapa lama lagi.
Nabi Muhammad mengingatkan, cukuplah kematian sebagai penasehat kamu, cukuplah kematian menjadikan hatimu bersedih, menjadikan mata-mu menangis, perpisahan dengan orang-orang yang kamu cintai, penghilang segala kenikmatanmu, pemutus segala cita-citamu. Wahai orang yang tertipu oleh dunianya, wahai orang yang berpaling dari Allah , wahai orang yang lengah dari ketaatan kepada Rabbnya, wahai orang yang setiap kali dinasihati, hawa nafsunya menolak nasihat ini, wahai orang yang dilalaikan oleh nafsunya dan tertipu oleh angan-angan panjangnya... Pernahkah engkau memikirkan saat-saat kematian sedangkan engkau tetap dalam keadaanmu semula?
Beristirahatlah dengan tenang, Edi. Tidak perlu khawatir dengan anak-anak, mereka tumbuh dengan baik. Akan kubantu mereka menggapai apa yang mereka inginkan dan menjadi orang yang membanggakan. Semoga kelak saat kita berkumpul kembali, Engkau sudah memaafkan adikmu. Al Fatihah....

Komentar
Posting Komentar