6 BULAN PERJALANAN

6 bulan hampir dilalui bekerja di salah satu asuransi di Indonesia. Asuransi yang pernah menjadi klien kantor saya terdahulu. Asuransi dimana nasabahnya pernah saya layani.  Kantor dan pekerjaan yang dulu pernah menjadi angan-angan. 

Selama  21 tahun berkarir, saya selalu bekerja di bagian operasional. Tenaga penjual adalah pekerjaan yang belum pernah saya lakukan. Berjualan sendiri sebenarnya bukan hal yang baru  karena semenjak sekolah saya sudah berjualan barang-barang kepada teman-teman di sekolah maupun di kantor saat saya sudah mulai bekerja. Saya senang membawa barang-barang untuk dijual kepada teman sekantor dan biasa akan dibayar saat gajian. Entah baju gamis, kaus sablon, mukena, jilbab bahkan sandal bali pernah saya jual kepada teman-teman saya.

Jadi konsep berjualan sudah saya kenal. Namun Jualan disini berbeda karena produk yang dijual berupa jasa dengan ruang lingkup berjualan kepada institusi dan bukan jualan reteil. Jadi di sinilah sekarang saya mencoba peruntungan sebagai tenaga penjual disalah satu asuransi besar di kawasan Soedirman. Disinilah saya harus belajar kembali dari awal, dari mengumpulkan data, coldcalling, janji temu, buat proposal, presentasi proposal dan closing

Berjualan memang punya seni yang berbeda dengan pekerjaan lain. Tidak hanya produk dan harga, hubungan  yang menjembatani terjadinya bisnis harus saling melengkapi agar terjadi sebuah penjualan. Tantangan makin tinggi karena dilakukan saat pandemi dimana banyak sekali keterbatasan dalam melakukan pendekatan kepada calon nasabah. Banyak perusahaan yang memberlakukan WFH, atau kalau pun bekerja mereka bergantian. Berbeda dari kawan-kawan saya yang sudah berpengalaman, mereka membawa database mereka di perusahaan terdahulu, saya hanya membawa beberapa PIC yang sampai saat ini masih berhubungan baik.

Ternyata meski mengenal baik pun bukan berarti mudah mendapatkan bisnis. Banyak hal yang menjadi pertimbangan bagi perusahaan mengeluarkan data dan mau dibuatkan penawaran. Kadang untuk sebuah alamat email atau sekadar ingin berbicara dengan PIC perusahaan pun tidak mudah. Jawaban klasiknya, sedang meeting atau sedang keluar.  Jika beruntung data didapatkan proposal premi dapat langsung dibuat, namun bukan berarti selesai kadang harus ada negosiasi ulang di internal agar dapat sesuai dengan budget atau ketentuan dari perusahaan.  Hal yang sebenarnya menjadi siklus dari sebuah proses penjualan. 

Saya sendiri masih bergulat dengan database atau pipeline, proposal yang diajukan belum satu pun yang closing menjadi bisnis. Berbagai alasan yang kebanyakan lebih kepada harga yang tidak masuk budget atau ada kompetitor lain yang memberikan penawaran lebih murah. Target proposalpun pun belum dapat saya penuhi. Kemarin sore atasan saya kembali mengingatkan akan target dan konsekwensi jika target tidak tercapai. 

Saya harus siap menerima konsekwensi. Disisa waktu yang sedikit tetap akan mengupayakan dapat berkontribusi dengan baik. Jika pun konsekwensi harus saya terima karena target tidak tercapai, rasanya cukup adil. 6 bulan saya sudah mempelajari banyak hal di salah satu perusahaan asuransi besar di Indonesia. Pelajaran dan pengalaman dari teman-teman yang dibagi secara rutin saat meeting. Pelajaran menghitung resiko dan apa yang menjadi faktor penentu premi. Bagaimana perhitungan premi, bagaimana bernegosiasi. Hal yang tidak saya dapatkan dipekerjaan saya sebelumnya.

Semoga disisa waktu, Gusti Alloh mengizinkan saya mendapatkan client sebagai legacy terakhir saya. 


Komentar

Postingan Populer