TIDAK ADA JUDUL

Minggu lalu saya kedatangan tamu, tetangga sebelah rumah datang untuk mengundang resepsi pernikahan anak sulung mereka.  Usia kami  sebenarnya tidak terpaut jauh.  Namun usai lulus SMA, tetangga saya langsung menikah dengan laki-laki yang tinggal tak jauh dari rumahnya. Laki-laki pilihannya.

Kedatangannya siang itu tidak hanya mengantarkan surat undangan, tapi meminta tolong mencarikan pekerjaan untuk anak bungsunya. Tetangga saya ini mempunyai 2 putri. Sibungsu menikah terlebih dahulu. Sama hal dengan tetangga saya, sibungsu pun menikah dengan laki-laki yang dipilih orang tuanya begitu lulus kuliah.

Saya ingat dulu sebelum anak bungsunya menikah, ia sering bercerita mengenai putri bungsunya. Pernah saya berkomentar mengapa tidak memberi kesempatan sibungsu menikmati dunia kerja. Namun toh akhirnya pernikahan terlaksana meski menurut ibunya  sibungsu sebenarnya enggan menikahi laki-laki yang menyukainya. Cinta bertepuksebelah tangan, jika mendengar cerita tetangga saya mengenai kisah sibungsu sebelum menikah. 

Agaknya orang tua turut berperan sehingga sibungsu akhirnya menikahi laki-laki yang tidak disukainya. Sang calon suami sebelumya sangat  royal memberikan hadiah  dan uang untuk mengambil hati orang tua dan sibungsu. Siapa yang tidak senang menerima banyak hadiah dan uang dari laki-laki yang terlihat baik hati. Mungkin hutang budilah yang menjadi dasar pernikahan sibungsu. Terpaksa menikahi orang yang tidak disukainya karena hutang budi.

Saya malas berkomentar banyak, namun ketika tetangga saya ini bercerita mengenai kehidupan pernikahan sibungsu, saya sangat iba kepada sibungsu. Kenyataan bahwa kehidupan rumah tangganya tidak seindah yang dibayangkan dan dikatakan orang tuanya dahulu. 

Hari itu saya melihat penderitaan dan penyesalan seorang ibu. Dibalik tawa saat menceritakan kisah sedih yang dialami sibungsu, saya yakin ada kegetiran disana. Saya iba kepada sibungsu dan tetangga saya. Perempuan-perempuan ini tidak berdaya ditangan laki-laki yang sebenarnya adalah suaminya sendiri. Ketidakberdayaan ekonomi yang digunakan untuk mengikat perempuan dalam ikatan pernikahan yang rapuh dan cenderung saling menyakiti. 

Entah mengapa tetangga saya memilih saya sebagai tempat bercerita mengenai kegetiran hatinya. Kesedihan hati seorang ibu yang tidak dapat menolong putri bungsunya. Saya sendiri tidak punya solusi terbaik, tapi pagi ini sebuah link saya kirimkan, yang semoga dapat digunakan sibungsu untuk mencari informasi pekerjaan. Semoga dengan pekerjaan yang dia punya kelak akan membuat sibungsu menjadi perempuan yang kuat.


.



Komentar

Postingan Populer