PULANG
Malam itu sebuah pesan WA dari seorang kawan mengabarkan kakak, kawan bermain, rekan kerja "Pulang". Pulang kembali ke Sang Pemilik Kehidupan. Dewi pulang dengan tenang setelah berjuang melawan sakit selama beberapa hari di Rumah Sakit.
Rasanya tidak perlu menyebutkan penyebab kematiannya, karena sejatinya kita semua akan pulang. Pulang ke keabadian, pulang ke Sang Pemilik Kehidupan. Tinggal bagaimana cerita yang akan mengiringi akhir hidup kita.
Semenjak wabah Covid-19 yang berlangsung hampir setahun, saya dipaksa belajar memaknai kehidupan yang sudah saya jalani. Apa yang sudah saya lakukan untuk mengisi kehidupan yang sudah dianugerahkan Gusti Alloh. Dipaksanya saya untuk memilah kembali prioritas-prioritas dalam hidup dan mereview kembali hubungan saya dengan Gusti Alloh, sang Pemilik Kehidupan.
Wabah ini lah yang mengubah seluruh sisi kehidupan saya, dari pekerjaan, pertemanan, hubungan dengan keluarga dan juga hubungan vertikal dengan Gusti Alloh. Bisa jadi wabah ini memang takdir yang sudah digariskan bagi seluruh umat manusia yang hidup diabad ke 20. Sungguh aneh kehidupan umat manusia abad ini dipaksa berubah dratis oleh virus yang yang tidak tampak. Virus yang kabarnya semakin ganas bermutasi dan mempunyai daya tular luar biasa, menyerang dan merusak tidak hanya organ tubuh manusia yang terpapar, namun seluruh sendi kehidupan umat manusia. Orang dipaksa mengubah hidup agar dapat bertahan hidup. Bertahan hidup dalam arti sesungguhnya.
Saya salah satu yang diizinkan Nya mengalami banyak hal, pasang surut kehidupan pribadi, pengalaman mempunyai banyak menjadi sedikit dan merasakan tidak punya sama sekali serta kematian anggota keluarga, guru dan teman selama setahun belakangan ini.
Dan dari seluruh pasang surut kehidupan, kematian beberapa orang yang saya kenal lah yang paling mempengaruhi. Saya selalu kembali diingatkan, apa yang sudah dilakukan untuk mempersiapkan bekal pulang. Bekal pulang yang kadang lupa disiapkan karena sibuk untuk menyiapkan bekal hidup di dunia dan memenuhi macam-macam keinginan duniawi. Lupa hidup ini pendek dan tidak ada satupun yang tahu berapa lama umur yang tersisa.
Kematian guru saya dan Dewi mengingat untuk segera berbenah diri. Menentukan prioritas hidup dan meluruskan niat bahwa seluruh ikhtiar hidup semata-mata untuk mencari ridho Gusti Alloh. Masih jauh dari baik, tapi akan diupayakan sekuat mungkin. Memusnahkan sombong, ujub dan belajar untuk merendahkan diri. Jiwa ini lebih tenang, ketika satu persatu mulai melepaskan keinginan akan penilaian dari orang lain diatas penilaian dari Gusti Alloh.
Saya sendiri hanya pembelajar yang terus berproses untuk menjadi lebih baik. Hingga kelak cerita yang mengiringi saya saat panggilan pulang tiba adalah cerita dengan akhir yang baik.
10 Februari 2021, Rabu malam, di usia 46 tahun Dewi lebih dahulu dipanggil pulang. Air mata kesedihan mengiringi kepergiannya dan banyak doa terbaik mengantarkan Dewi pulang ke rumah abadi. Ia meninggalkan banyak cerita dan kenangan bagi kawan yang mengenalnya. Namun ada hal penting yang Dewi bagi, yaitu kematian. Kematian yang pasti akan datang menjemput tiap yang berjiwa. Entah dengan cara bagaimana ajal pasti akan menjemput. Lalu apa bekal yang sudah disiapkan dan akan dibawa menghadap Gusti Alloh jika sewaktu-waktu ajal itu menjemput.

Komentar
Posting Komentar