TAHLILAN

Hampir sebulan sejak tulisan terakhir saya. Hari ini diantara kesibukan closing pertama, saya ingin menuliskan  acara semalam. 

Berawal dari pesan WA seorang kawan, yang menginformasikan mengenai Tahlilan 40 hari seorang kawan. Sudah 40 hari semenjak kepulangan Dewi, kawan yang pernah satu kantor dengan saya. Waktu memang cepat berlalu seiring dengan kesibukan memperjuangan hidup kami masing-masing, sosok Dewi lambat laun menghilang. Namun saya yakin tidak dirasakan oleh keluarga besar Dewi.

Tahlilan 40 hari Dewi semalam dilakukan secara virtual, mengingat masih dalam kondisi pandemi dan Dewi pun terpapar virus Covid-19 juga dari cluster keluarga. Dewi, kakak laki-laki Dewi dan ibunya adalah beberapa orang dari ribuan orang yang terpapar  virus Covid-19.

Tidak banyak yang menghadiri Tahlilan semalam. Tahlilan dihadiri anak laki-laki semata wayang Dewi yang sedang bersekolah di Berlin dan juga keluarga besar Dewi serta beberapa kawannya.  Izzi, anak manis yang kadang saya dengar ceritanya dari Dewi bertahun lalu. Ini pertama kali saya melihat Izzi, panggilan Dewi ke anak semata wayangnya. Ya waktu memang berjalan dengan cepat, Izzi kecil sudah tumbuh menjadi remaja.  Selain Izzi, hadir pula ibu kandung Dewi yang sebelumnya juga dirawat inap di ICU dengan kasus yang sama. Alhamdulillah, beliau  sudah pulang dari RS dan tampak sehat. Semalam, saya bisa merasakan kesedihan Izzi dan ibu dari Dewi. Kesedihan yang amat mendalam  dari  ibu dan anak  yang kehilangan orang terkasih. 

Itulah ajal. Dia menjemput bukan berdasarkan urutan usia bahkan meski sepanjang hidup seseorang sakit-sakitan atau mengidap sakit parah. Kematian memang misteri dan rahasianya dipegang oleh sang Pemilik Kehidupan. Entah kapan dan bagaimana cerita yang mengiringinya, manusia disuruh untuk mempersiapkan diri. Siapa sangka sebulan sebelumnya, saya dan Dewi sempat ngobrol mengenai banyak hal, namun semalam saya ikut menghadiri tahlilan 40 hari kematiannya.

Kemarin sore usai menerima WA dari kawan, saya memutuskan ikut Tahlilan. Saya ingin berdoa bersama keluarga sebagai pengganti tidak dapat takziah. Kami tidak berkawan dekat. Saya termasuk kawan yang tidak asik begitu kata kawan yang mengenal saya. Saya sangat jarang hang out bareng Dewi bahkan dengan kawan saya yang lain. Berbeda dengan Dewi yang punya banyak sekali kawan, saya tidak punya banyak kawan.  Namun ia sosok kawan yang baik, meski bukan kawan atau teman kerja yang sempurna tapi saya yakin banyak kebaikan yang ia berikan kepada orang-orang yang mengenalnya. 

Apapun cerita yang Dewi lakoni dan bagikan selama hidupnya, Dewi adalah anak, kakak, adik dan ibu tercinta dari keluarga besarnya. Ia sudah menutup buku kehidupannya dan tersisa hanya kenangan yang tak akan pernah mati bagi orang terdekat dan yang mencintainya. 

Istirahatlah dengan tenang Dewi. Kami pun menunggu giliran dan menyusul untuk pulang



Komentar

Postingan Populer