1 RAMADHAN 1442 H


Hari ini hari pertama Ramadhan , 1 Ramadhan 1442 H, tahun kedua Ramadhan di saat pandemi. Agaknya wabah Covid-19 masih betah dan akan berlangsung lama. 

Cuma satu kata yang terucap; Alhamdulillah... masih dipertemukan dengan Ramadhan. Beberapa dari anggota keluarga dan kawan baik berpulang tahun lalu dan tahun ini, tak lagi dapat berkumpul bersama kami dibulan Ramadhan. Covid-19 membuat kematian menjadi lebih dekat, meski sebenarnya kita harus meyakini bahwa  yang dekat adalah kematian. Lebih dekat dari urat nadi leher kita.

Buat saya sendiri, Ramadhan selalu membawa kebahagian dan kesedihan. Kebahagian karena diberi kesempatan untuk mendapatkan berkah dan rahmat serta kasih sayang Alloh SWT. Percaya atau tidak banyak berkah yang saya rasakan di Ramadhan. Tahun lalu dilewati dengan status sebagai pengangguran. Sebulan setelah wabah Covid-19 diumumkan pemerintah sudah masuk ke Indonesia, kantor saya ditutup. Namun toh saya merasa cukup dengan apa yang saya punya saat itu. Mungkin itulah berkah Ramadhan yang diberikan Alloh SWT. Tercukupi tidak berlebihan dan tidak kekurangan saat menyandang status pengangguran. Alloh yang mengizinkan saya menjadi pengangguran dan Alloh juga yang mencukupi saya meski tidak punya penghasilan saat itu. 

Kesedihan juga saya rasakan di tiap Ramadhan karena teringat almarhumah ibu yang berpulang saat Ramadhan. So Ramadhan always give mixed feeling for me. Hampir 12 tahun Ramadhan tanpa orang tua dan 2 Ramadhan ini tanpa nyekar ke makam ibu. 

Nyekar adalah ritual tiap tahun sebelum Ramadhan yang mesti dilakukan.  Entahlah ada perasaan tenang berada di makam Bapak Ibu. Suasana makam yang tenang dengan semilir angin yang bertiup lambat membuat saya sering berlama-lama disana. Ngobrol dengan ibu mengenai banyak hal. Ya... seperti orang kurang waras , bercerita banyak hal tentang hari yang saya lalui atau tentang keputusan yang saya buat atau yang akan saya buat. Saya membayangkan Ibu mendengarkan cerita saya. Hmmm... ritual lain selain berdoa dimakam Ibu, Bapak dan Edi serta para leluhur. Aneh buat sebagian orang. Saya lebih suka bercerita dimakam ibu seolah olah ibu dapat mendengar sama halnya ketika ibu masih hidup.

Tahun ini, Alhamdulillah saya dan kakak sepupu saya masih dapat berkumpul di bulan Ramadhan. Rasanya berkah terbesar selama wabah Covid-19 berlangsung adalah kami serumah diberikan kesehatan dan merasa cukup dengan kehidupan yang kami punya. Tough but we can make it.

Janji dihati, untuk menjadikan Ramadhan seperti Ramadhan terakhir. Ya.. sisa umur tidak ada yang tahu. Setiap detik dibulan Ramadhan tidak akan kembali. Semoga Ramadhan ini membuat saya menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya. Dalam banyak doa ada hal yang tak pernah lepas saya minta kepada Alloh SWT diberikan kekuatan untuk istiqomah untuk lebih Tawadhu. Kehidupan keras yang saya lalui akan mengajarkan saya untuk lebih Tawadhu.

Ahlan wa sahlan wa marhaban ya Ramadhan. Bulan yang penuh dengan keberkahan  dan ampunan. Semoga saya termasuk orang yang dapat merasakannya. Amiin dan Insya Alloh.














Komentar

Postingan Populer