IRONI

5 hari  menuju Idul Fitri.  Perayaan sebagai tanda berakhirnya puasa  Ramadhan. Waktu cepat sekali berlalu.

Agaknya sama dengan tahun lalu perayaan Idul Fitri tahun ini dilakukan saat pandemi. Virus Covid-19 masih betah di negeri ini. Rasanya gelombang pertama saja belum usai di negri ini, tapi apa daya varian baru akibat mutasinya virus sudah masuk ke Indonesia. Dengar dengar daya tularnya  sampai 35 sd 75% lebih ganas dari sebelumnya. 

Negara tetangga  saat ini sudah memasuki  gelombang kedua wabah Covid-19 karena sekolah sudah dibuka. Entahlah apa yang terjadi di negri ini, jika sekolah mulai dibuka. Membayangkan  saja  ngeri. Berkaca dari India yang punya tipikal masyarakat yang hampir sama dengan masyarakat Indonesia. Masyarakat yang cenderung abai dan euforia yang berlebihan dengan ada vaksin. Ada anggapan vaksin adalah game changer yang ironinya tidak dibarengi dengan diubahnya sistem kesehatan yang lebih baik dari sebelumnya.

Diawali dengan aktifitas yang sudah  kembali "normal" bisa dilihat dengan macetnya jalan dimana mana, ramainya mall dan pasar, mungkin juga karena  beberapa kantor pun sudah kembali beraktifitas normal. Rasanya seperti tidak ada wabah yang perlu ditakuti. Hari raya yang sebentar lagi tiba sudah pasti akan menjadi trigger naiknya kasus.  Mobilitas penduduk yang tinggi akan  menyebabkan wabah sulit dikendalikan. Di India, krisis yang mengerikan terjadi akibat ritual keagamaan yang dilakukan ribuan orang di sungai Gangga baru baru ini, saat wabah yang belum terkendali. Ini contoh betapa mobiltas penduduk saat wabah akan menjadi penyebah krisis kesehatan yang mengerikan.

Mau kapan selesainya jika tidak ada kesadaran kolektif untuk bareng bareng mengakhiri wabah. Saya sendiri sudah di fase masa bodoh. Saya nikmati saja previlage bisa kerja dari rumah dan masih diberi cukup dalam menjalani kehidupan yang makin menantang dari hari ke hari. Malas mengomentari abainya masyarakat di luar sana. Selalu ada alasan yang bisa diberikan. Saya sendiri dengan sadar memutuskan tetap disiplin dengan PROKES dan tidak keluar rumah untuk sesuatu yang tidak mendesak.

Hidup yang saya punya memang jauh dari sempurna, namun  nikmat mana lagi yang akan saya dustai. Jika sampai detik ini saya masih diberi kesehatan hingga bisa menjalani hari hari di rumah. Rumah tua peninggalan almarhum ibu yang menjadi rumah, kantor dan tempat bernaung serta berlindung yang nyaman, setidaknya buat penghuni rumahnya.

Akankah tahun depan saya akan menuliskan ironi kembali karena wabah yang enggan  pergi, entahlah....


Komentar

Postingan Populer