MINGGU YANG KELABU

Hari ini saya ingin menulis. Terapi saat saya merasa cemas dengan situasi saat ini. Setidaknya ini cara saya mengendalikan rasa takut dan cemas akan situasi yang mengkhawatirkan saat ini. 

Bermula dari kabar yang semalam disampaikan kakak saya tentang  tetangga sebelah rumah yang positif Covid-19. Padahal siangnya ia dan anaknya berada di rumah saya. Teras rumah saya memang menghadap matahari terbit, sinar matahari pagi selalu memenuhi teras rumah. Jadi  saya membolehkan tetangga saya  duduk di teras untuk berjemur. Entahlah saat itu ada rasa takut ketika tetangga saya memberitahukan anaknya demam malam sebelumnya. Sementara suara ibunya terdengar bindeng.

Cuaca bulan Juni ini memang  tidak menentu, banyak hujan dan turun kabut dipagi hari lalu tiba tiba cuaca panas. Tak heran banyak yang mengeluh tak enak badan. Sakit disaat wabah Covid-19 menggila menjadi hal yang mencemaskan saya pribadi. Akses fasilitas kesehatan menjadi sulit karena banyak rumah sakit penuh menangani kasus Covid-19. Semalam setelah mendengar kabar itu, saya sempat tidak bisa tidur karena khawatir terpapar.  Entah jam berapa akhirnya saya tertidur. Alhamdulillah saya masih bisa tidur dengan nyenyak.

Ternyata banyak dari masyarakat awam, yang belum paham bahwa saat sedang tidak enak badan atau jika ada keluarga yang terpapar apalagi kontak erat dilarang keluar rumah. Karena patut dicurigai sudah terpapar oleh Covid-19. Saya tinggal di kampung padat dimana banya rumah warga yang berdempetan serta sempit dan dihuni banyak keluarga dalam 1 rumah sehingga jika ada salah satu yang terpapar dapat dipastikan bahwa satu keluarga patut dicurigai sudah terpapar. Penyumbang lonjakan kasus positif Covid-19 adalah  cluster keluarga.

Menjadi salah satu alasan mengapa wabah sulit dikendalikan karena perilaku abai. Sudah 1.5 tahun namun belum cukup mengubah perilaku masyarakat yang abai menjadi disiplin.  Kita selalu harus dipaksa untuk belajar dengan cara yang keras dan menyakitkan. Menyedihkan sekaligus mencemaskan.

Kabar berikutnya adalah kabar duka yang dikirimkan beberapa kawan melalu text masssage. Suami dari kawan saya meninggal semalam. Berapa hari sebelumnya saya melihat statusnya, yang mengabarkan sulitnya mencari UGD karena banyak RS yang UGDnya penuh dengan kasus Covid-19. Saya tidak berani menanyakan siapa lelaki yang  mengunakan oksigen distatus tersebut, namun statusnya sudah cukup memberitahukan bahwa teman saya pasti sedang kalut dan cemas. Tak perlulah saya menambah kecemasannya dengan pertanyaan saya. 

Sudah bisa dipastikan sedih dan kalut jika ada anggota keluarga yang membutuhkan pertolongan di RS sulit mendapatkan akses kesehatan yang memadai. Kabar terburuk tentunya adalah kematian. Well, apa pun itu sejatinya sebab kematian adalah ajal yang sudah menjemput. Penyebab atau cara bagaimana hanya akhir cerita yang menyertai seseorang menjemput ajalnya.

Hidup nyatanya amat rapuh dan singkat. Takdir hidup  adalah misteri yang harus dijalani siap atau tidak siap. Tidak tahu berapa lama sisa kehidupan kita, siapa yang akan lebih dahulu pulang dan bagaimana caranya ia pulang.

Yang bisa dilakukan adalah  berusaha  menjalani dan melanjutkan hidup dengan sebaik mungkin. Mengupayakan semampunya untuk selalu lebih baik setiap harinya, hingga saat Gusti Alloh memanggil pulang setidaknya, Semesta akan bersaksi bahwa kita berusaha menjadi hamba-Nya yang baik.

Semoga hujan diminggu yang kelabu ini meringankan kesedihan teman dan keluarga yang sedang tertimpa musibah dan menjadi pengingat bagi kita untuk berbuat baik disisa umur.





Komentar

Postingan Populer