SURVIVAL MODE
Minggu ke-3 bulan Juni, pagi yang berkabut setelah banyak hujan beberapa hari lalu. Sedikit berbeda dari tahun sebelumnya hujan banyak turun di bulan Juni tahun ini. Namun apapun cuaca di bulan Juni ini, menjalani hidup di tengah wabah yang tak kunjung usai membuat saya dan banyak orang saat ini hanya mengerjakan prioritas utama yang harus dilakukan untuk tetap hidup dalam situasi ini. BERTAHAN HIDUP, menjaga agar tubuh tetap sehat sehingga dapat beribadah dengan baik dan bekerja untuk mengisi hidup yang sudah dianugerahi Gusti Alloh dengan baik.
Rasanya saat ini tidak banyak pengharapan kecuali hidup sehat jasmani rohani dan keluarga besar sehat dan selalu dalam lindungan Gusti Alloh. Tetap waras, sudah cukup sebagai pengharapan melewati wabah tahun ini. 1.5 tahun wabah berlangsung dan belum ada tanda tanda akan berakhir bahkan terus memburuk dalam 2 minggu ini. Rasanya bulan Juni dan Juli ini akan banyak hal yang menakutkan dan menyedihkan akan terjadi.
Belakang ini, postingan twitter banyak sekali berisi permintaan tolong untuk dicarikan ICU untuk keluarga atau kerabat yang terpapar Covid 19 yang kebetulan saturasi oksigen sudah dibawah 90. Pasien dengan saturasi oksigen dibawah 90 harus berada di ruang observasi dan mendapatkan oksigen.
ICU tempat yang mengerikan buat saya dan rasanya tak satupun orang yang ingin berada di sana meski hanya ingin menengok orang yang sakit. Ironisnya tempat ini saat ini langka dan sangat sulit dicari. Adapula informasi persediaan oksigen di beberapa daerah yang mulai menipis, atau beberapa keluarga yang memberitahukan kepada Pemprov bahwa ada anggota keluarga yang telah wafat di rumah yang belum diurusi warga karena merupakan pasien yang terpapar Covid. Berita yang amat menyedihkan datang dari saudara saudara kami yang tinggal di negeri yang kami cintai.
Ya Alloh, tak terbayang negeri kami harus mengalami wabah ini dengan parah, entah apakah ini sudah yang terburuk atau masih ada lagi yang lebih buruk. Kehidupan yang makin sulit bagi sebagian orang, karena yang harus berjibaku dengan keharusan mencari makan bagi keluarganya diluar rumah sekaligus bertaruh nyawa karena virus mengincar bagi siapa saja yang lengah dan abai. Jadi rasanya menjadi kurang bijak bagi orang orang yang mendapat privilage bisa bekerja dari rumah, banyak mengeluh atau orang arang yang merasa kondisi badannya kuat masih saja nongkrong yang tidak penting di caffe atau di mall dengan alasan apapun. Atau artis artis yang punya keleluasaan materi, berfoto sedang berlibur disaat yang bersamaan saudara saudara berjibaku dengan resiko terpapar virus karena harus mencari makan.
1.5 tahun wabah berlangsung belum juga mengajari kita mengenal virus ini dan agaknya kita semua harus belajar dengan cara yang keras sekaligus menyakitkan dan menyedihkan. 1.5 tahun banyak dari kita yang belum belajar untuk berempati dengan saudara saudaranya yang tidak punya privilage hidup di tengah tengah wabah. Pemerintah yang menjadi tumpuan harapan, nyata-nyata sudah memberitahukan ketidaksanggupan membiayai rakyatnya saat nyata nyata bahaya mengancam rakyatnya.
Tak terbayang berada digenerasi yang hidup saat wabah, dengan resiko berjibaku terpapar covid namun pilihan lainnya adalah keluarga yang akan kelaparan dan harus pula membayarkan ongkos hidup di negara yang kami cintai..
Duh Gusti, mohon ampun atas banyak kesalahan kami, mohon diberikan kekuatan dan kesanggupan bagi kami melewati wabah ini. Mohon dimaafkan karena sering sambat.

Komentar
Posting Komentar