SEKEDAR MENULIS YANG ADA DI KEPALA

Hari ini bulan ke Sembilan dan setengah bulan dilalui. Tersisa 3.5 bulan menjelang usainya 2021. Tahun di mana kehidupan masih belum dapat diprediksi. Pandemi yang belum dapat dikatakan usai. Meski masa kritis pandemi sudah  dilalui hampir satu bulan yang lalu. Kehidupan seakan mulai kembali bergeliat. Meski belum dikatakan sepenuhnya aman karena wabah belum benar-benar usai.

Entahlah seakan September memaksa saya  mulai merefleksikan perjalanan selama 8 bulan ini. Perjalanan yang membawa jauh sampai hari ini. Hari ini saya kembali menulis dalam blog yang saya buat untuk sekedar menuangkan apa yang ada di kepala saya. Kegelisahan, kekecewaan, kebahagiaan, rasa syukur, insecure, marah atau hal remeh temeh yang tidak penting bagi sebagian orang. Menulis menjadi terapi saat saya merasa insecure. Meski tidak menyelesaikan masalah namun membuat saya lebih lega dan kemudian melihat segala sesuatu lebih baik.

2021 adalah tahun di mana saya mencoba hal baru dalam karir. Menekuni dan mengusahakan sekuatnya agar hal baru ini kelak dikenang karena memberi arti dan mengubah saya. Tidak banyak orang yang saya temui secara intens tahun ini karena keadaan yang  membatasi interaksi fisik. Beberapa orang baru dan beberapa orang yang sempat bertemu, hadir kembali, walau hanya untuk meminjam uang atau meminta bantuan. Bahkan tanpa basa basi menanyakan kabar. Beberapa dari mereka dulu pernah saya sapa lewat wa yang seingat saya tidak membalas sapaan saya. Mungkin sibuk atau saya bukan orang penting buat mereka. Mungkin mereka takut saya menghubungi mereka untuk meminta bantuan dan pinjam uang. Hal lazim saat seseorang tiba-tiba menghubungi orang lain, meski sebelumnya abai terhadap kita. Mereka membawa banyak pelajaran sekaligus memberi pengalaman. Rendah hati, lapang dada, menyesuaikan diri dengan banyak batasan, berbagi, berempati dan  banyak bersyukur. Itu pelajaran terbesar saya di tahun 2021.

Tahun di mana prioritas hanya sebatas menjalani kehidupan dengan baik dan bertahan. Cukup berarti hidup dengan baik dan sesuai kemampuan tanpa meminta belas kasih orang. Harus menolong diri sendiri karena posisinya tidak punya siapapun yang dalam lingkar dekat saya bisa dimintai bantuan. 

Tulisan ini bukan tentang  kesepian namun tentang pilihan yang diambil. Pilihan untuk tetap hidup dan menjalaninya dengan segala kemampuannya. Cerita tentang turun naiknya perjalanan, tentang hati yang sering berubah ubah, tentang  perjalanan spiritual yang jujur tanpa merasa malu karena memang demikian adanya. Penggalan cerita hidup yang jadi bagian perjalanan.

Anehnya saat saya menerima keadaan dan pandangan orang terhadap saya. Saya jarang membela diri atas pendapat dan pandangan orang terhadap saya. Sedih, kecewa, kesal pastilah saya rasakan. Namun akan menguap begitu saja karena, it really doesn't matter what they said about me. They don't have any contribution in my life, so what should I care. I ignored them simply because i don't want to effect my sleep  at night. Not worth it at all. Consciously, I choose my inner circle and not mind if I don't have many people around me. Less is much better than many but toxic.

The older I get, the more i realize the value of privacy, of cultivating your circle and only letting certain people in. You can be open, honest and real, while still understanding that not everyone deserves a seat at the table of your life 

Sejujurnya terkait  perjalanan spiritual, saya masih jauh dari muslim yang baik. Ibadah yang masih sebatas menggugurkan kewajiban dan kadang sering tanpa makna. Tapi saya butuh Tuhan untuk  memberikan ketenangan batin dikala sesak karena banyak hal. 

Belakangan ini saya bertanya pada Tuhan, apakah kelak sesudah saya berbuat baik dengan orang lain, berbagi dengan orang lain, kelak akan mendapatkan hal yang sama. Jika suatu ketika dalam kesulitan apakah ada yang membantu, apakah ada orang yang dikirimkan Tuhan untuk membantu. Atau jangan-jangan orang-orang tidak mempedulikan saya meski atas apa yang sudah saya berikan pada mereka. Me just nothing to them except when they need. They remember and call when they need but they dont give damn care actually about us unless  their ego.  What a unfair and ya.. life indeed is unfair.

Pertanyaan yang mengusik, meski saya tetap saja melakukannya walau kadang tahu bahwa mungkin tidak akan mendapatkan hal yang sama bahkan untung pun tidak. Mungkin saya tolol atau entahlah. Yang jelas ini bukan ketulusan atau keikhlasan. 2 kata yang mudah dikatakan namun sulit dijalankan, karena bagian dari hati  minta imbal yang sama. Meski banyak yang bilang tanpa keikhlasan maka hanya capek hati, raga bahkan kadang materi. Tapi apa mau dikata ada bagian kecil yang entah apa, bisa jadi sombong atau karena hal lain, tetap saja sebisa mungkin saya lakukan. 

Rasanya benar, menggantungkan harapan hanya kepada Tuhan karena Ia satu-satu yang tidak akan berpaling. Hanya mengimaninya bahwa Tuhan akan membayar lunas apapun yang kita kerjakan. Segala hal baik yang ikhlas atau tidak tidak akan luput dari perhitungannya. Bahkan hal buruk pun akan diberikan imbalan.

Mungkin itu pula yang membuat saya sampai detik ini dapat bertahan. Bukan karena kelebihan karena terlahir dari orang tua kaya, kepintaran, kecantikan, maupun keberuntungan lain dibandingkan yang lain. Sayangnya tidak ada satupun diatas yang saya punya bahkan keberuntungan jarang hadir dalam hidup saya. Kalau pun sampai hari ini masih tegak berdiri, lebih karena kasih sayang dan belas kasian Tuhan kepada saya. Entahlah, apa jadinya jika Tuhan meninggalkan saya. Hal yang membuat saya  meski jauh dari ikhlas,semampunya saya berusaha menjadi orang benar dimata Tuhan. Walau kadang sering bertanya kepada Tuhan akankah ini  membawa kebaikan atau malah berakhir dengan kekecewaan.







Komentar

Postingan Populer