PAGI YANG BASAH     



Jakarta diguyur hujan sejak dini hari. Hawanya  enak untuk bergumul di bawah selimut. Saya sendiri memilih bangun tidur dan menjalankan ritual pagi. Omong omong, ini adalah tulisan ke dua saya ditahun ini. Banyak yang mau saya tulis sebagai refleksi 10 bulan yang telah lewat. Apa ya sudah dilalui, apakah lebih baik dari sebelumnya, sama saja atau tidak lebih baik dari tahun lalu.

Jujur tidak lebih baik dari tahun lalu. Dari fisik tidak lebih sehat terbukti dari dua kali sakit setahun ini. Bahkan sampai awal tahun depan jika masih diberi usia, harus menjalani pengobatan. Sama halnya dengan yang lain, Covid seperti arisan, yang semua anggotanya akhirnya akan mendapat giliran terkena virus Covid-19. Ada yang terbukti secara klinis dan banyak yang bergejala tapi tidak diperiksa sehingga tidak tahu apakah terpapar atau tidak. Tinggal pilih mau diteam mana.  Saya termasuk yang terbukti secara klinis. Jadi diberi seminggu istirahat di rumah sampai aplikasi peduli lindungi kembali hijau sebagai bukti boleh beraktivitas di luar rumah.

Lalu dipertengahan tahun ini,  berkah lain yang saya dapatkan yaitu terjangkit kuman TB. Penyakit yang saya juga tidak tahu dari mana tertapar kuman tersebut. Agak menyangkal diawal mengingat tidak ada gejala yang spesifik yang saya rasakan. Apa daya sesak yang luar biasa saat berjalan jauh. Keluhan tidak nyaman pada dada saat berbaring atau saat berjalan jauh yang membuat saya memilih menemui dokter. Dari serangkaian test yang menghabiskan limit asuransi kesehatan tahun ini, Alhamdulillah ditemukan kabut di paru paru kanan. Kejutan besar di tengah tahun.

Efusi pleura adalah penumpukan cairan di rongga pleura. Rongga ini terletak di antara lapisan pleura yang membungkus paru-paru dengan lapisan pleura yang menempel di dinding dalam rongga dada.

Begitulah takdir yang saat ini mesti dijalani, pengobatan Efusi Pleura. Pengalaman pengobatan di RS yang membuat saya tidak ingin mengulang kembali. Cukup sekali dan Insya Alloh akan  berikhtiar untuk menjaga kesehatan. Saat bosan minum obat, ingatan saat di rumah sakit yang memaksa saya untuk konsisten menyelesaikan pengobatan.

Dulu saya pernah membantu penjaminan  pasien yang melakukan pengobatan ini. Tidak terbayang saat ini saya juga menjalani pengobatan yang sama. Pengobatan yang panjang dan butuh komitmen dari diri sendiri untuk menyelesaikan pengobatan. Butuh usaha besar dan pemaksaan yang kuat oleh diri sendiri.  Banyak yang gagal dan banyak pula yang sukses menjadi penyintas. Alhamdulillah saya diberikan kesempatan untuk menjalani sampai sejauh ini. Mudah mudahan saya termasuk penyintas yang dapat menyelesaikan pengobatan dengan baik. 

Pagi yang basah mengingatkan saya untuk menjalani sisa waktu yang tidak tahu tinggal berapa lama lagi. Hujan dini hari yang membuat saya  kembali melihat kehidupan yang sudah saya jalani. Melihat kembali apakah selama ini saya sudah memberikan makna dari hari hari dan tiap tarikan nafas yang masih diberikan Alloh kepada saya. 

Doa saya dipagi yang melow adalah kesempatan menikmati hal hal baik dalam kehidupan saya. Memberikan makna tiap hal baik yang saya lakukan. Dan kelak saat dipanggil pulang, ada yang  bersaksi bahwa saya memberi arti baik bagi banyak hal saat saya hidup.

Kamis yang basah dan hujan tidak reda sejak turun dini hari tadi. Tulisan ini memang melow, semelow suasana pagi ini. Dah ah selamat hari kamis semua. Lanjut kerja.

Komentar

Postingan Populer