SI ETEH

 

Beberapa hari lalu terima kabar melalui WA, salah satu tetangga saya yang dulu mengontrak di sebelah rumah, meninggal. Kami dulu bertetangga, dari kontrak di belakang rumah, sampai pernah mereka kontrak di sebelah rumah saya. Kemudian  mereka pindah jauh dari lingkungan rumah kami. Saat itulah kami terputus hubungan.

 

Saya panggil om dan tante keduanya, meski di lingkungan tetangga, si Om dikenal dengan kang Dudi dan si tante dikenal dengan Eteh. Panggilan kakak bagi orang Sunda “Teteh”. Saya bahkan baru tahu namanya saat saya melayat ke rumah almarhumah kemarin malam. 

 

3 tahun lalu saat si Om meninggal, kebetulan saat pembatasan kegiatan, saat itu pandemi menggila. Kampung padat kami masuk dalam zona merah. Sehingga semua kegiatan sosial dibatasi termasuk ketika ada tetangga, kerabat yang meninggal.  Saat itu saya melayat meski saya tidak berani mendekat. Saya hanya menatap dari jauh anak anak almarhum dan si Eteh dan mengirimi makanan sekedarnya. 

 

Kemarin malam, saya datang kembali untuk melayat. Eteh, tante yang saya kenal dengan keriangannya dengan make up glowingnya . Ciri khas wanita Sunda yang senang berdandan. Keriangannya yang menular. Suasana akan semarak jika ada almarhumah. Beliau adalah biduan di lingkungan rumah kami. Saat 17 Agustus, dangdutan akan semarak dan si bintang panggung adalah Si Eteh. 

 

Buat saya keduanya adalah tetangga yang baik. Keluarga sederhana yang saling mencintai dengan caranya. Mereka bukan pasangan yang mesra satu dengan yang lainnya, tapi saya yakin mereka berdua mencintai sampai akhir. Bukanlah orang yang menampilkan keshalehan dalam kehidupan sehari hari.

 

Saat saya bertemu dengan anak anaknya kemarin malam, cerita tentang keduanya membuat saya yakin bahwa keduanya orang yang baik. Banyak yang bersaksi bahwa keduanya adalah orang baik. Bahkan seorang dokter di UGD RS menyempatkan untuk melayat, bersaksi bahwa selama 10 tahun di UGD dan melihat banyak pasien saat sakratul maut. Om lah yang pulang dalam keadaan tenang. Diakhir helaan nafas terakhir kalimat takbir yang terucap. Hal yang sama dengan si Eteh sebelum  ia dibawa ke RS untuk mendapatkan pertolongan. Meski sebanarnya anak anaknya tahu beliau  sudah pulang saat di rumah. Istigfar dan takbir yang mengakhiri helaan nafas terakhir si Eteh.

 

Pulang kembali kepada sang Pemilik Kehidupan. Berkumpul dengan kekasih hati yang selalu dirindukannya. Saat saya ditunjukkan photo almarhumah sebelum dikafani, Eteh seperti layaknya orang yang tidur, tenang dan ikhlas.

 

Saya tidak akan lupa dengan kebaikan dengan perhatian si Eteh kepada saya. Terutama saat saya sudah ditinggal Bapak dan Ibu. Meski banyak tukang di rumahnya tak pernah sekalipun kami merasa tidak aman. Mereka menjaga kami. Bahkan di banyak pagi diketuknya pagar rumah saya, hanya untuk mengantar satu toples besar rengginang  yang sudah digoreng. Eteh tahu kalau saya suka sekali dengan rengginang. Sambil berbisik “ jangan bilang siapa siapa soalnya cuma dik Siti yang saya antari”.  Dia memang memanggil saya dik . Panggilan sayang seorang kakak kepada adiknya. Bahkan tukang yang bekerja di dengan si Om dipinjamkan untuk membetulkan pintu di rumah kami. Hal kecil yang mengesankan hati. 

 

Kebaikan kepada saya mungkin cuma segelintir dari banyaknya  amalan yang dilakukan keduanya secara rahasia. Sehingga keduanya mendapatkan akhir yang baik saat maut menjemput mereka. Keshalehan yang hanya diperuntukkan kepada sang Pencipta tanpa diperlihatkan dihadapan manusia. Kebaikan tanpa Riya di dalamnya. 

 

Ya mereka berdua Khusnul khotimah menurut saya, pulang dengan akhir yang baik. Akhir yang dicita citakan oleh semua orang, Pulanglah Eteh, berkumpulah kembali dengan Kang Dudi. Cinta sejatimu  telah menunggu. Saya pun bersaksi bahwa Eteh dan om Dudi orang baik.  

 

 

 

 

 

 

 

 

Komentar

Postingan Populer